Minggu, 15 Mei 2011

Zona Inti GSK-BB Membutuhkan Restorasi

Laporan Andi Noviriyanti Duri andinoviriyanti@riaupos.co.id

Awal Pekan ini (9/5) merupakan hari yang cerah untuk melakukan perjalanan sejauh empat jam Pekanbaru-Duri. Cagar Biosfer GSK-BB mendapat tamu dari jauh, negeri Sakura, Jepang. Mereka merupakan mitra pihak Asia Pulp and Paper (APP). Maka bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Rombongan Stakeholder Relations Sustainability and Angagement APP Jakarta, APP Jepang, Tim Askul dan Morubeni-Jepang, dan Tim Riau Pos berangkat menuju zona inti cagar biosfer.

Pukul 13.35 rombongan tiba di kawasan inti GSK-BB. Tepatnya di Desa Tasik Betung, Kampung Baru, Duri. Perjalanan yang cukup melelahkan ini terbayar sudah dengan keramahan alam serta masyarakat di daerah tersebut. Semilir angin yang tidak berhenti menjadikan suasana di desa tersebut terasa segar. Tarian persembahan lima siswa SD Negeri 006 Tasik Betung pun menggambarkan ucapan selamat datang dari warga di zona inti GSK-BB tersebut.









“Orang-orang yang unik dan berbeda dengan di negara saya,” ucap, Kano, satu-satunya wanita dan perwakilan APP Jepang yang turut dalam trip tersebut.

Ungkapan kegembiraan juga terucapkan dari, Asminiwati, guru SDN 006 Tasik Betung

“Kami terharu dan sangat senang dengan kunjungan ini, apalagi ini merupakan kunjungan asing pertama, biasanya yang selalu datang adalah orang-orang dari dinas,” ungkapnya.

Stephan Irmea Sinisuka, Stakeholder Relations APP Jakarta, mengatakan, kedatangannya ke Desa Tasik Betung ingin meninjau kondisi lingkungan dan masyarakat di sini secara langsung.

Sebab, lanjutnya, pelestarian lingkungan bukan hanya tentang lingkungan namun juga tentang masyarakatnya.

“Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat secara sepihak jika terjadi kerusakan hutan. Selalu ada alasan dibalik semua itu, misalnya masalah ekonomi,” tambahnya.

Oleh karena itu, kedepan, kata Stephan begitu ia dipanggil, mereka akan melakukan pendekatan kepada masyarakat. Hal itu untuk bersama-sama melakukan restorasi di kawasan inti cagar biosfer yang mengalami perambahan atau pengrusakan.

Sementara untuk rencana kegiatan restorasi, Stephan menjelaskan untuk tahap pertama pihak Jepang (Askul, red) berencanakan melakukan restorasi di Suaka Marga Satwa Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, bersama dengan BBKSDA Riau dan Yayasan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI).

Sebelumnya, ujar Stephan lagi, APP telah bekerjasama dengan pihak Askul, yang pada kunjungan tersebut di wakili oleh Shunichiro Azuma.

“Kami punya program one box two trees (satu kotak dua pohon),” tuturnya. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Jambi sejak Oktober 2010 lalu, sementara untuk kawasan Riau, telah dilaksanakan di Bukit Batu sejak Desember 2010.

Kegiatan one box two trees dilaksanakan sebagai wujud kepedulian Askul terhadap lingkungan. Sebab mereka tidak hanya ingin sebagai pengguna, namun juga menjaga lingkungan. Satu kotak kertas biasanya menghabiskan satu hingga satu setengah batang pohon. “Dan, kita ingin berbuat lebih dengan menanam dua pohon untuk satu kotak kertas,” sambung Stephan.

Namun, ujarnya lagi, restorasi yang akan dilakukan adalah dengan menanam lokasi yang gundul dengan pohon-pohon dari habitat aslinya. “Misalnya jelutung,” kata Stephan mengambil contoh pohon yang asli dari habitat GSK-BB. Jelutung merupakan pohon langka yang tidak ada lagi di dunia kecuali di kawasan tropis. Sementara potensinya sangat bagus.

Stephan mengakui bahwa kegiatan tersebut harus didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Pihaknya akan melibatkan masyarakat langsung dalam kegiatan tersebut. “Masyarakatlah yang berperan sebagai maintanance dan pengelola di sini,” ungkapnya.

M Kurnia Rauf, Kepala BBKSDA, juga menyampaikan bahwa kunjungan ke zona inti GSK-BB tersebut, merupakan penguatan terhadap fungsi pengelolaan cagar biosfer sebagai upaya pengelolaan manusia dan lingkungan.

Untuk mengelola tersebut maka akan dilakukan teknik yang berbeda antar masing-masing kawasan. “Setiap tempat atau desa akan diberikan solusi yang berbeda-beda sesuai dengan permasalahan dan kendala yang mereka,” terang Kurnia di tengah dialog dengan warga setempat.

Sebab tambanyahnya lagi, permasalahan desa satu dengan yang lainnya pasti berbeda-beda. Masyarakat bisa memanfaatkan kawasan cagar biosfer, ujarnya lagi. Namun harus dengan pola yang berbeda. Misalnya masyarakat bisa mencoba kegiatan ekowisata atau jasa lingkungan dengan memanfaatkan danau, tasik dan lingkungan disekitar GSB-BB.

“Tentu saja itu akan diperbolehkan jika warga menjaga kondisi lingkungan di sini dengan baik dan sesuai kaedah pengelolaan cagar biosfer,” terangnya.

Usai temu ramah dengan warga Tasik Betung, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Perawang. Sekitar seratus meter melewati inti GSK-BB, bukaan-bukaan lahan sebagai bentuk dari perambahan terlihat disana-sini. “Kurang lebih 20.000 hektare lahan di kawasan GSK-BB pernah mengalami perambahan,” komentar Canecio P Munoz, Environment Director Sinar Mas Forestry sekaligus berperan sebagai pemandu rombongan.

Ia juga menyatakan bahwa pengelolaan buffer zone yang tidak baik akan membahayakan kawasan inti.(tya-gsj)



Dikutip dari Green Student Journalists

0 komentar: