MERAUP RUPIAH DARI SILAIS DAN BAUNG

Ikan selais dan baung dapat dimanfaatkan sebagai komoditi. Kedua jenis ikan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi. Masyarakat Desa Tamiang Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, melihat potensi tersebut sebagai penambah pendapatan mereka. .

Sosialisasikan Cagar Biosfer Lewat Blog

CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) kini juga disosialisasikan melalui media internet. Tentunya di era kemajuan teknologi ini akses tercepat untuk mendapatkan informasi adalah melalui internet.

Tingkatkan Program Budidaya di Cagar Biosfer'

Suatu kawasan akan mempunyai kontribusi bagi manusia, apabila budidayanya baik. Karena dengan adanya budidaya itulah suatau kawasan dapat berkembang. Demikian halnya yang dilakukan oleh Sinarmas Forestry (SMF) terhadap Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).

Riau Miliki Pengolahan Air Gambut Terbesar

BUKITBATU (RP)- APAG 60 atau Alat Pengolaan Air Gambut 60 yang dipasang di Tanjungleban, Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan alat pengolahan air gambut terbesar di Indonesia

SAM KEHUTANAN RESMIKAN SEKRETARIAT CAGAR BIOSFER

GSKBB - Staf Ahli Menteri (SAM) Kehutanan Dr Agus Mulyono meresmikan pemakaian Sekretariat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB).

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2011

Rawa Gambut di Kawasan GSKBB

Lahan gambut dulu tidak diperhatikan, sekarang lahan gambut menjadi idola banyak kalangan, dari pemerintah, LSM hingga pengusaha. Catatan Greenpeace, suatu organisasi lingkungan global, total gambut di Indonesia ada 42 juta hektar alias 10 persen dari total gambut dunia. Di dalam 10 persen tersebut tentu termasuk lahan gambut yang ada di Giam Siak Kecil – Bukit Batu, Riau.

Biomassa di rawa gambut diketahui memiliki kandungan unsur karbon yang tinggi dan sejauh rawa gambut itu lestari, tentunya tidak ada kekhawatiran bahwa unsur karbon itu terlepas mempertinggi kandungan karbon di atmosfer yang menyumbang pada pemansan global. Apakah rawa gambut Giam Siak Kecil – Bukit Batu akan tetap lestari?

Secara keseluruhan ancaman itu telah dan masih ada. Citra satelit menunjukkan sejak tahun 1985 hingga tahun 2002, tutupan hutan di wilayah Giam Siak Kecil telah merosot dari sekitar 600.000 hektare menjadi kira-kira 350.000 hektare. Bagaimana dengan keadaan sekarang?

Ekosistem hutan rawa gambut di kawasan Suaka Margasatwa GSK sebagian besar telah mengalami gangguan baik penebangan liar, maupun perambahan lahan untuk pembukaan ladang dan pemukiman. Laporan LIPI (2007) menyebutkan bahwa wilayah Blok Tasik Betung, sebagian besar hutan rawa gambutnya sudah merupakan bekas tebangan liar. Sisa tegakan jenis primer hutan rawa gambut umumnya terdiri atas jenis-jenis tidak komersial dan berukuran relatif kecil. Hal ini kontras dengan ekosistem hutan rawa gambut kawasan konsesi PT Arara Abadi di Blok Bukit Batu yang tidak dikonversi masih relatif lebih baik. Penandanya adalah masih dijumpainya beberapa jenis utama yang berukuran cukup besar.

Perambahan terhadap hutan rawa gambut menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh badan pengelola cagar biosfer. Tindakan – tindakan di lapangan sering kali diikuti cara informal yang lebih berhasil daripada pendekatan formal. Badan pengelola yang mengikutsertakan setiap pemangku kepentingan diharapkan mempu menjembatani solusi.

Pelestarian ekosistem ini bukan hanya melindungi satwa genting, tetapi sekaligus menjadi penyimpan cadangan karbon yang cukup besar di wilayah Riau. Sedikitnya terdapat 7,3 giga ton karbon di kawasan inti cagar biosfer.

Harimau Sumatra : Si Belang yangTerancam Punah

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), dari namanya saja kita sudah tahu bahwa harimau ini hanya dapat ditemukan dipulau sumatra, termasuk di propinsi Riau. Harimau ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Kucing besar ini merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang dapat bertahan hidup hingga saat ini.

Harimau sumatra merupakan sub-spesies harimau terkecil yang memiliki warna lebih gelap daripada sub-spesies harimau yang lainnya. Salah satu yang menjadi keistimewaan harimau ini adalah ia dapat berenang dan memanjat pohon saat memburu mangsa. Harimau ini juga memiliki belang yang lebih tipis dibandingkan sub-spesies harimau yang lain.

Di propinsi Riau sendiri, harimau sumatra dapat di temukan di cagar biosfer Giam Siak Kecil Bukit-Batu (GSK-BB). Namun keberadaan harimau sumatra ini di propinsi Riau sendiri diprediksi akan punah pada tahun 2015. Mengapa bisa di prediksikan demikian? Tentu saja hal ini disebabkan karena adanya perusakan ekosistem dan menyebabkan si belang ini kehilangan habitatnya. Selain itu pemburuan terhadap harimau ini juga menjadi salah satu faktor menurunnya populasi harimau sumatra ini. Jangan sampai harimau yang menjadi kebanggaan kita ini menjadi ikut punah seperti para saudaranya terdahulu, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica). Semoga saja di CB-GSK-BB, kucing besar ini bisa dapat hidup dan berkembang biak dengan baik sehingga punahnya harimau sumatra ini tidak akan pernah terjadi.

Acryopsis Javanica GSK-BB

Tidak ada habisnya jika kita menguak cerita dari cagar biosfer ke-7 di Indonesia ini. Giam Siak Kecil Bukit Batu ibarat sebuah istana dalam tanah yang menyimpan segudang harta karun yang tidak ada habisnya. Plantarum ( tumbuhan ) Acryopsis Javanica merupakan salah satu tumbuhan yang mudah berkembang biak dikawasan hutan alam dan rawa-rawa serta memilki manfaat bagi kesehatan kita.

Mungkin sebagaian dari kita sudah mengetahui tentang tumbuhan yang satu ini, Acryopsis Javanica (anggrek) adalah tumbuhan yang merupakan genus Acriopsis. Anggrek yang satu ini merupakan tumbuhan herbal dalam bentuk epifit kecil. Sepintas anggrek ini mirip dengan anggrek genus Cymbidium, tetapi dalam hal habitat berbeda.

Indonesia merupakan area persebaran terbesar dari anggrek tersebut, GSKBB adalah salah satu habitat persebaran dari anggrek yang memiliki nama ilmiah Acryopsis Javanica , karena GSKBB merupakan kawasan hutan yang alami dan memiliki rawa-rawa sehingga mempermudah perkembangbiakkan anggrek genus yang satu ini. Selain Indonesia, anggrek herbal ini juga tersebar negara lain seperti, nepal di kepulauan solomon.

Tumbuhan herbal adalah tumbuhan yang identik dengan kesehatan. Begitu hal nya dengan Acryopsis Javanica yang memiliki khasiat bagi kesehatan kita. Sebagian dari kita mungkin tidak tahu, bahwa selain menjadi tumbuhan cantik yang menghias setiap sudut rumah, tumbuhan ini juga berkhasiat untuk menjaga daya tahan tubuh dan meredakan demam. Memang terdengar sedikit aneh, tumbuhan yang tadinya berfungsi untuk mempercantik rumah malah memiliki fungsi lain bagi kita.

Jika kita benar-benar memanfaatkan anggrek yang satu keluarga dengan Orchidaceae ini, secara langsung kita sudah menghemat pengeluaran untuk meredakan demam dengan berobat ke dokter. Sekilas tumbuhan ini memang tidak terlihat agresif untuk kesehatan. Tetapi jika kita telah mencoba, khasiat yang luar biasa itu akan kita rasakan.

Para peneliti plantarum telah melakukan sebuah riset yang membuktikan adanya senyawa kimia yang terdapat didalam Acryopsis Javanica berupa zat antibodi yang mampu membunuh virus penyebab demam serta mengembalikan daya tahan tubuh. Bagaimana bisa tanaman hias tersebut melakukan reaksi kimia yang mampu mengoptimalkan kesehatan kita jika kita tidak mencobanya sendiri.(Pia/GSJ)

Keanekaragaman Hayati GSK-BB

Hutan rawa gambut memang menjadi primadona di cagar biosfer giam siak kecil-bukit batu. Namun, sadarkah kita begitu banyaknya kekayaan keanekaragaman hayati yang terdapat didalamnya. Sejauh ini, keanekaragaman hayati yang ada di cagar biosfer sudah menjadi aset yang patut kita banggakan sebagai masyarakat Riau. Sebab, begitu banyak jenis tumbuhan dan pohon yang beraneka ragam yang tumbuh menghiasi lahan seluas 705.279 Ha tersebut.

Keanekaragaman Hayati Suaka Margasatwa Bukit Batu dari hasil survey LIPI menunjukan terdapat bermacam jenis pohon berkayu di areal inti seperti kempas (Koompasia malacensis), Meranti batu (Shorea uliginosa), Meranti bunga (Shorea teymanniana) Punak (Tetrameristra glabra), Durian burung (Durio carinatus), Bintangur (Calophyllum soulatri) )jika ingin mencoba tracking kita bisa melihat jenis tanaman yang masuk daftar red list IUCN yaitu Ramin (Gonystilus bancanus ) protected, kantong semar (Nephentes spp).

Dari berbagai keanekaragaman hayati yang paling dominan adalah tanaman ramin. Selain menjadi tanaman yang masuk daftar red list IUCN, ramin merupakan tanaman yang paling mudah dijumpai jika kita berkunjung ke cagar biosfer GSK-BB. Beragam jenis tanaman yang tumbuh menjadi aset yang harus kita jaga. Maraknya ilegal logging memang menjadi sebuah motivasi bagi kita untuk berupaya menjaga keanekaragamn hayati yang terdapat di Giam Siak Kecil-Bukit Batu.

Selain pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, kita juga akan menjumpai kantung semar dan jamur yang banyak tumbuh di kawasan cagar biosfer. Suburnya tanaman di kawasan tersebut didukung oleh kondisi fisik alamnya yang tropis dan dekat dengan sumber air. Banyak sekali manfaat dari tanaman tersebut, selain digunakan sebagai penopang produksi kertas dari kayu yang dihasilkan, juga difungsikan sebagai penyerap air dan sebagai rumah bagi masyarakat yang tinggal di Giam Siak Kecil-Bukit Batu tersebut.

Ekowisata Cagar Biosfer GSK-BB

Sejak diresmikannya sebagai cagar biosfer ke-7 di Indonesia oleh Menteri Kehutaanan MS Kaban pada 1 Juli 2009 lalu, Giam Siak Kecil Bukit Batu semakin dikenal oleh masyarakat Riau. Perkembangan sumber daya alam lah yang semakin menunjang potensinya. Hal itu membuat pihak Sinarmas Forestry (SMF) ingin mengembangkan potensi alam itu dalam bidang pariwisata.

“Kami berkeinginan utuk mengembangkan kawasan cagar biosfer dalam ekowisatanya, sebab kami melihat bayak sekali potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang pariwisata tersebut, apalagi kondisi alamnya yang sangat cocok untuk tempat penelitian ataupun kegiatan liburan seperti outbond dan camping” tutur pihak SMF, Nurul Huda saat ditemui Duta Cagar Biosfer akhir Mei lalu.

Dilihat dari kondisi alamnya, lokasi yang tepat untuk dijadikan kawasan wisata terletak pada zona inti dan zona penyangga. Dipilihnya kedua zona tersebut karena melihat kondisi hutannya yang masih alami dan tidak padat penduduk, sehingga cocok untuk dijadikan lokasi wisata alam. Selain membuat fasilitas wisata seperti outbond, pihak SMF juga mengusulkan agar dibangunnya pondokkan-pondokkan yang difungsikan sebagai tempat peristirahatan jika ada tamu atau orang luar yang melakukan kunjungan ke cagar biosfer dalam rangka penelitian atau sekedar menikmati liburan.

Usulan SMF ini disambut baik oleh Andi Noviriyanti M.Si yang merupakan Direktur Eksekutif Save The Earth Foundation (SEFo) Riau Pos. SMF juga meminta kerja sama dengan Duta Cagar Biosfer untuk mensosialisasikan program tersebut. Bersama dengan Green Student Journalists (GSJ), duta cagar biosfer sudah mulai mensosialisasikan program tersebut dengan membuka pelatihan GSJ Weekend School yang tujuan akhirnya adalah memperkenalkan kawasan wisata yang ada di Riau terutama cagar biosfer GSK-BB.

Kegiatan wisata di cagar biosfer masih dalam tahap penyelesaian, tetapi Green Student Journalists (GSJ) yang dipimpin oleh Andi Noviriyanti M.Si bersama Duta Cagar Biosfer sudah merencanakan kegiatan pelatihan jurnalis dan tour wisata ke objek wisata alam yang ada di Riau dalam waktu dekat ini. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajak generasi muda lebih mengenal alam Riau dan juga untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan pada generasi muda tersebut.

“Kami juga mengusulkan, jika nantinya membangun pondokkan-pondokkan tersebut lebih baik menggunakan bahan baku yang berasal dari hasil alam cagar biosfer itu sendiri, karena itu berarti memanfaatkan sumber daya alam yang ada sekaligus untuk mengembangkan potensi alam itu sendiri,”tutup Nurul Huda. (pia-gsj)

Minggu, 15 Mei 2011

Zona Inti GSK-BB Membutuhkan Restorasi

Laporan Andi Noviriyanti Duri andinoviriyanti@riaupos.co.id

Awal Pekan ini (9/5) merupakan hari yang cerah untuk melakukan perjalanan sejauh empat jam Pekanbaru-Duri. Cagar Biosfer GSK-BB mendapat tamu dari jauh, negeri Sakura, Jepang. Mereka merupakan mitra pihak Asia Pulp and Paper (APP). Maka bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Rombongan Stakeholder Relations Sustainability and Angagement APP Jakarta, APP Jepang, Tim Askul dan Morubeni-Jepang, dan Tim Riau Pos berangkat menuju zona inti cagar biosfer.

Pukul 13.35 rombongan tiba di kawasan inti GSK-BB. Tepatnya di Desa Tasik Betung, Kampung Baru, Duri. Perjalanan yang cukup melelahkan ini terbayar sudah dengan keramahan alam serta masyarakat di daerah tersebut. Semilir angin yang tidak berhenti menjadikan suasana di desa tersebut terasa segar. Tarian persembahan lima siswa SD Negeri 006 Tasik Betung pun menggambarkan ucapan selamat datang dari warga di zona inti GSK-BB tersebut.









“Orang-orang yang unik dan berbeda dengan di negara saya,” ucap, Kano, satu-satunya wanita dan perwakilan APP Jepang yang turut dalam trip tersebut.

Ungkapan kegembiraan juga terucapkan dari, Asminiwati, guru SDN 006 Tasik Betung

“Kami terharu dan sangat senang dengan kunjungan ini, apalagi ini merupakan kunjungan asing pertama, biasanya yang selalu datang adalah orang-orang dari dinas,” ungkapnya.

Stephan Irmea Sinisuka, Stakeholder Relations APP Jakarta, mengatakan, kedatangannya ke Desa Tasik Betung ingin meninjau kondisi lingkungan dan masyarakat di sini secara langsung.

Sebab, lanjutnya, pelestarian lingkungan bukan hanya tentang lingkungan namun juga tentang masyarakatnya.

“Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat secara sepihak jika terjadi kerusakan hutan. Selalu ada alasan dibalik semua itu, misalnya masalah ekonomi,” tambahnya.

Oleh karena itu, kedepan, kata Stephan begitu ia dipanggil, mereka akan melakukan pendekatan kepada masyarakat. Hal itu untuk bersama-sama melakukan restorasi di kawasan inti cagar biosfer yang mengalami perambahan atau pengrusakan.

Sementara untuk rencana kegiatan restorasi, Stephan menjelaskan untuk tahap pertama pihak Jepang (Askul, red) berencanakan melakukan restorasi di Suaka Marga Satwa Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, bersama dengan BBKSDA Riau dan Yayasan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI).

Sebelumnya, ujar Stephan lagi, APP telah bekerjasama dengan pihak Askul, yang pada kunjungan tersebut di wakili oleh Shunichiro Azuma.

“Kami punya program one box two trees (satu kotak dua pohon),” tuturnya. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Jambi sejak Oktober 2010 lalu, sementara untuk kawasan Riau, telah dilaksanakan di Bukit Batu sejak Desember 2010.

Kegiatan one box two trees dilaksanakan sebagai wujud kepedulian Askul terhadap lingkungan. Sebab mereka tidak hanya ingin sebagai pengguna, namun juga menjaga lingkungan. Satu kotak kertas biasanya menghabiskan satu hingga satu setengah batang pohon. “Dan, kita ingin berbuat lebih dengan menanam dua pohon untuk satu kotak kertas,” sambung Stephan.

Namun, ujarnya lagi, restorasi yang akan dilakukan adalah dengan menanam lokasi yang gundul dengan pohon-pohon dari habitat aslinya. “Misalnya jelutung,” kata Stephan mengambil contoh pohon yang asli dari habitat GSK-BB. Jelutung merupakan pohon langka yang tidak ada lagi di dunia kecuali di kawasan tropis. Sementara potensinya sangat bagus.

Stephan mengakui bahwa kegiatan tersebut harus didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Pihaknya akan melibatkan masyarakat langsung dalam kegiatan tersebut. “Masyarakatlah yang berperan sebagai maintanance dan pengelola di sini,” ungkapnya.

M Kurnia Rauf, Kepala BBKSDA, juga menyampaikan bahwa kunjungan ke zona inti GSK-BB tersebut, merupakan penguatan terhadap fungsi pengelolaan cagar biosfer sebagai upaya pengelolaan manusia dan lingkungan.

Untuk mengelola tersebut maka akan dilakukan teknik yang berbeda antar masing-masing kawasan. “Setiap tempat atau desa akan diberikan solusi yang berbeda-beda sesuai dengan permasalahan dan kendala yang mereka,” terang Kurnia di tengah dialog dengan warga setempat.

Sebab tambanyahnya lagi, permasalahan desa satu dengan yang lainnya pasti berbeda-beda. Masyarakat bisa memanfaatkan kawasan cagar biosfer, ujarnya lagi. Namun harus dengan pola yang berbeda. Misalnya masyarakat bisa mencoba kegiatan ekowisata atau jasa lingkungan dengan memanfaatkan danau, tasik dan lingkungan disekitar GSB-BB.

“Tentu saja itu akan diperbolehkan jika warga menjaga kondisi lingkungan di sini dengan baik dan sesuai kaedah pengelolaan cagar biosfer,” terangnya.

Usai temu ramah dengan warga Tasik Betung, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Perawang. Sekitar seratus meter melewati inti GSK-BB, bukaan-bukaan lahan sebagai bentuk dari perambahan terlihat disana-sini. “Kurang lebih 20.000 hektare lahan di kawasan GSK-BB pernah mengalami perambahan,” komentar Canecio P Munoz, Environment Director Sinar Mas Forestry sekaligus berperan sebagai pemandu rombongan.

Ia juga menyatakan bahwa pengelolaan buffer zone yang tidak baik akan membahayakan kawasan inti.(tya-gsj)



Dikutip dari Green Student Journalists

Kamis, 14 April 2011

Kunjungi Bengkalis, Ube IECA Jepang Tawarkan Teknologi Manajemen LH Cagar Biosfer

Teks Foto : Dua anggota dari Ube International Environment Cooperation Associatin (Ube IECA) dan Ube Minicipality Jepang, foto bersama usai meninjau langsung keberadaan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil di Bengkalis, Rabu (13/4/11).
Riauterkini-BENGKALIS- Dua anggota Ube International Environment Cooperation Associatin (Ube IECA) dan Ube Minicipality Jepang, meninjau secara langsung Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukitbatu melalui udara (fly over) menggunakan helikopter, Rabu (13/4/11). Tujuannya untuk melihat bagaimana pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Bengkalis. Kedatangan Ube IECA dan Ube Minicipality Jepang ini ke Bengkalis dalam rangka menawarkan program Training Course of Ube Model on Environmental Managemet Technology fo Bengkalis Regency.
Rombongan Ube IECA Ube Minicipality Jepang terdiri dari Dr. Masao Ukita dari Universitas Yamaguchi eqn Isao Shinohara dari Ube City fly Over di atas Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukitbatu difasilitasi oleh Sinarmas Forestry. Dan berada di Bengkalis sejak Senin (11/4/11) lalu sampai Kamis (14/4/11) besok. Selama berada di Bengkalis mereka telah melihat langsung bagaimana kondisi hutan mangrove, sagu, daerah pertanian, pengolahan sampah dan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukitbatu.
“Mereka sangat apresiasi sekali ketika melihat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukitbatu yang terjaga dengan baik. Ini menunjukkan bahwa kesan negatif yang selama ini melekat terhadap negara kita terhadap pengolahan lingkungan hidup tidak selamanya benar,” papar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bengkalis, Jondi Indra Bustian Jondi, ikut mendampingi rombongan Ube IECA dan Ube Minicipality Jepang fly over ke Cagar Biosfer Giam Siak Kecil.
 
Terkait tawaran kursus teknologi dan manajemen lingkungan hidup oleh Ube IECA dan Ube Minicipality Jepang, menurut Jondi, Pemkab sangat menyambut baik. Dalam realisasinya nanti, Pemkab akan mengirimkan pegawai untuk mengikuti kursus di Jepang tentang bagaimana teknologi dan pengolahan lingkungan hidup di Jepang sejak 50 tahun lalu.***(dik)


Sumber : Riau Terkini

Cagar Biosfer Itu Bernama Giam Siak Kecil – Bukit Batu

Suatu tempat yang letaknya tak jauh dari garis khatulistiwa. Bentangan hutan perawan dari sedikit yang tersisa di permukaan Bumi. Selama ribuan tahun cuaca dan iklim telah membentuknya. Menyisakan pemandangan yang purbawi sebagaimana hutan pada mulanya, sebelum peradaban mengubahnya. Dan bentangan hutan ini adalah bentangan hutan dataran rendah yang khas. Setiap helai daun, setiap batang ranting berjatuhan ke lantai hutan bercampur dengan fosil dan jasad renik bertumpuk lapis demi lapis membentuk hutan rawa gambut yang unik. Selain menyimpan stok karbon yang paling tinggi, hutan ini merupakan gudang keanekaragaman hayati. Penelitian oleh WWF (World Wide Fund For Nature) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2003, menunjukkan di dalam blok hutan seluas 0.2 hektare terdapat sedikitnya 215 jenis tumbuhan berbunga.
Data dan fakta tentang kawasan hutan yang terletak di antara Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak ini semakin menebalkan semangat para peneliti dan kelompok pelestari. Artinya Sumatera khususnya Riau masih memberikan harapan untuk menerapkan konsep-konsep pelestarian. Hutan yang menyumbangkan warna hijau yang tebal dan acak itu berada di dalam dua kawasan lindung rawa gambut, Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil dan Bukit Batu. Warna hijau itu terpisahkan oleh warna hijau yang memuda, kawasan hutan produksi yang kemudian ditetapkan menjadi kawasan pelestarian oleh Sinarmas Forestry.
Ketiga kawasan, Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Suaka Margasatwa Bukit Batu, dan kawasan konsesi perhutanan Sinarmas Forestry, bila digabungkan akan membentuk hamparan hutan seluas 178.722 hektare atau kira-kira 2,7 kali luas Provinsi DKI Jakarta. Upaya sekecil apapun untuk mengkonservasi dan menghindari deforestasi hutan rawa gambut akan sangat berarti, walaupun pengalaman menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidaklah mudah. Oleh karena itu perlu pendekatan yang tepat untuk pengelolaan SM Giam Siak Kecil dan SM Bukit Batu. Pengembangan kedua SM dan areal sekitarnya sebagai Cagar Biosfer dipandang merupakan pendekataan pengelolaan yang paling tepat. Pada tahun 2006, Sinarmas Forestry mengusulkan gabungan ketiga kawasan tersebut kepada pemerintah untuk menjadi Cagar Biosfer di Provinsi Riau.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu ditetapkan dalam sidang MAB (Man and the Biosphere) - UNESCO di Jeju, Korea Selatan, 26 Mei 2009 lalu. GSK-BB adalah satu dari 22 lokasi yang diusulkan 17 negara yang diterima sebagai cagar biosfer.
Tahun ini adalah tahun kedua setelah penetapan Giam Siak Kecil – Bukit Batu menjadi cagar biosfer, masih banyak yang harus dilakukan. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, pengelolaan kawasan harus dilakukan bersama antara pemerintah, swasta, dan komunitas sesuai dengan area yang dikelolanya dan kompetensinya. Status cagar biosfer bukan merupakan tujuan akhir, melainkan awal dari kerja besar yang menanti.
(risky ade maisal)