MERAUP RUPIAH DARI SILAIS DAN BAUNG

Ikan selais dan baung dapat dimanfaatkan sebagai komoditi. Kedua jenis ikan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi. Masyarakat Desa Tamiang Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, melihat potensi tersebut sebagai penambah pendapatan mereka. .

Sosialisasikan Cagar Biosfer Lewat Blog

CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) kini juga disosialisasikan melalui media internet. Tentunya di era kemajuan teknologi ini akses tercepat untuk mendapatkan informasi adalah melalui internet.

Tingkatkan Program Budidaya di Cagar Biosfer'

Suatu kawasan akan mempunyai kontribusi bagi manusia, apabila budidayanya baik. Karena dengan adanya budidaya itulah suatau kawasan dapat berkembang. Demikian halnya yang dilakukan oleh Sinarmas Forestry (SMF) terhadap Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).

Riau Miliki Pengolahan Air Gambut Terbesar

BUKITBATU (RP)- APAG 60 atau Alat Pengolaan Air Gambut 60 yang dipasang di Tanjungleban, Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan alat pengolahan air gambut terbesar di Indonesia

SAM KEHUTANAN RESMIKAN SEKRETARIAT CAGAR BIOSFER

GSKBB - Staf Ahli Menteri (SAM) Kehutanan Dr Agus Mulyono meresmikan pemakaian Sekretariat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB).

Senin, 22 Oktober 2012

Unri Fasilitasi Wisata ke SM Bukit Batu

Universitas Riau (Unri) turut aktif menfasilitasi kegiatan wisata alam dan budaya ke Suaka Marga Satwa (SM) Bukit Batu yang sekarang telah menjadi bagian dari Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB). Hal itu di sampaikan oleh Haris Gunawan, dari Center Tropical Peat Swamp Restoration and Concervation (CTPRC) Indonesia kepada GSJ (10/10).
‘’Unri telah memastikan diri untuk menfasilitasi kegiatan taskforce sebagai persiapan pelaksanaan kegiatan wisata alam dan budaya ke Suakamargasatwa Bukit Batu,’’ terang Haris begitu ia kerap disapa.
Unri telah memberi bantuan dana sebesar lima juta rupiah beserta dua unit mobil yang akan digunakan untuk perjalan peserta dari Pekanbaru ke SM Bukit Batu, tambahnya.
Sementara dana tersebut akan digunakan untuk persiapan infrastruktur kegiatan. Antara lain, rehabilitas sundak research shelter, ‘’Ini akan menjadi lokasi penginapan sebagian peserta wisata alam dan budaya selama di Bukit Batu,’’ jelas Haris.
Berikutnya dimanfaatkan untuk pencucian jalur sungai. Jalur itu akan dilewati oleh peserta kegiatan. ‘’Saat ini jalur sungai yang akan dilewati speedboat menuju Sundak Research Shelter telah ditumbuhi sejenis pandan air yang berduri, hal itu tentu saja menghalangi perjalanan sehingga harus dibersihkan,’’ tuturnya Bapak dua anak ini.(tya-gsj)

Unri Ajak Lestarikan Gambut

SUNGAI air hitam dan tanah gambut yang selalu basah. Betapapun keringnya kala musim kemarau panjang, ia seperti mangkuk raksasa sebagai tempat menyimpan air saat musim hujan. Ia yang menjaga ketersediaan air kala musim kering tiba, merupakan sistem alam yang luar biasa. Terjaganya sistem alam yang bekerja memberikan jaminan akan ketersediaan air dan mencegah bencana banjir kapanpun itu musimnya.  Tanah gambut yang terbentuk ribuan tahun lalu, seakan mutiara hitam yang menyimpan potensi batubara jutaan kubik pada masanya nanti, walaupun sekarang masih mengakumulasi dalam bentuk simpanan karbon yang bernilai jutaan dolar ketika era perdagangan karbon tiba. Belum lagi keunikan formasi dan kekayaan hutan yang terbentuk mengikuti tingkat kedalaman gambut.   Semakin dalam gambut (dome), semakin jarang dan kecil-kecil diameter pohon hutannya. Belum lagi keunikan berbagai hewan endemik. Gambaran sempurna keutuhan ekosistem alami hutan rawa gambut, yang saat sekarang semakin terancam dan bahkan semakin sulit mempertahankannya, karena sebagian besar telah menjadi kawasan budidaya dengan gambut yang sangat kering, terbakar, dan mengalami penyusutan (shrinkage).   Sejak tiga tahun lalu, dimulai dari tahun 2009, keterlibatan institusi pendidikan, seperti Universitas Riau, dan Universitas Kyoto, Jepang melakukan penelitian intensif, terutama di hamparan gambut blok Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis yang mengkombinasikan berbagai disiplin ilmu, aspek sosial-ekonomi, biodiversitas-ekologi, iklim dan hidrologi, dan restorasi.   Pembangunan Sundak Research Shelter, dan Pangkalan Bukit Research Shelter di dalam kawasan hutan, hasil kerjasama Balai Konservasi Sumberdaya Alam Riau, Universitas Riau (Unri), Universitas Kyoto Jepang, Kelompok Masyarakat Desa Temiang yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Peduli Hutan dan CTPRC Indonesia, menjadi momentum penting bagi upaya-upaya meningkatkan aktifitas penelitian dan pelibatan masyarakat tempatan dalam mempromosikan konservasi hutan gambut dengan melibatkan peran serta masyarakat.   Selain itu beberapa kegiatan pemberdayaam masyarakat juga dilaksanakan sejak tahun 2010, seperti model desa konservasi, yang dilaksanakan oleh BBKSDA Riau, Biovillage oleh LIPI, dan Penanaman Jelutung oleh Sinar Mas Grup-ASKUL-PILI, dan rencana rehabilitasi oleh BBKSDA Riau.  Sebagai upaya terus mempromosikan usaha-usaha konservasi gambut khususnya di cagar biosfer blok bukit batu, dan memberikan dukungan rencana ekspos dan penjajakan ekowisata Pembantu Rektor IV Unri, Ir Adhy Prayitno, dan Drs Rahmat MT, pekan kemaren beserta tim melakukan kunjungan dan melihat langsung kondisi terkini gambut di suaka margasatwa Bukit Batu, mengadakan pertemuan dan diskusi dengan masyarakat dan kepala Desa Temiang, yang juga dihadiri perwakilan perusahaan grup Sinar Mas, yang beroperasi di blok hamparan gambut bukit batu.(melati-gsj/dac)

Sosialisasi GSK Lakukan Wisata

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu merupakan  cagar biosfer ke-7 di Indonesia yang satu-satunya berada di Sumatera. Eksotisme dan keberagaman sumber daya yang begitu mendominasi, hubungan antara alam dan manusia yang harmonis menjadi daya tarik tersendiri di wilayah ini. Sehingga pencanangan kawasan ini menjadi wisata alam tampaknya tak dapat terhindarkan.
 Berbagai elemen masyarakat baik daerah, kota, bahkan mancanegara menjadikan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-bukit Batu objek observasi dan penelitian.
Hutan rawa gambut yang terbentang, satwa-satwa terlindungi yang mendiami kawasan ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pengelola pusat dan daerah untuk mengawasi  para peneliti, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya yang memasuki kawasan ini.   
Hal ini dilakukan agar elemen masyarakat yang berkepentingan dapat menjalankan tugasnya tanpa menganggu aktivitas yang ada didalamnya dan bersama-sama menjaga keberlangsungan konservasi.
Untuk itu, menjadikan kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu sebagai wisata alam terbatas adalah kebijakan mulia dan juga solusi untuk melestarikan keberlangsungan satwa dan alam yang ada didalamnya.
Dengan ini, masyarakat dapat menikmati panorama keindahan alam yang asri dan dapat melakukan observasi  untuk pengembangan pengetahuan dengan aman. Ini juga merupakan langkah konkret dan harapan terdepan untuk mempromosikan kawasan ini ke kancah dunia sebagai wisata alam yang patut dikunjungi. (melati-gsj)

Senin, 01 Oktober 2012

Pepohonan Tua Penunjang Keanekaragaman Hayati

SEPANJANG sungai memasuki kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil dan Bukit Batu, pemandangan alami sangat jelas terlihat. Ada yang khas di tepian sungainya, selain ada rasau dan bakung, pepohonan tua nan tinggi juga mendominasi kawasan tersebut.
Pohon berumur puluhan tahun itu jenisnya beragam. Ada meranti, bintangur, balam, suntai, punak ramin, arang-arang, pasir-pasir, rengas, pulai, medang, kelat dan masih banyak lagi.
Selain memperindah kawasan tersebut sekaligus memberikan kesan garang, pepohonan tua tersebut ternyata memiliki berbagai macam fungsi. Diantaranya adalah menjadi tempat tinggal ataupun tempat singgah bagi beberapa hewan yang tinggal di kawasan Cagar Biosfer tersebut.
Hewan-hewan yang biasa ditemui berada di pepohonan tersebut juga bermacam-macam. Ada kengkareng, rangkong, beberapa jenis burung-burung keluarga pycnonotus dan tupai. Beberapa pohon tersebut menghasilkan buah yang ternyata juga menjadi pakan bagi para satwa tersebut.
Menilik dari fungsinya, keberadaan pepohonan tua tersebut ternyata menjadi salah satu faktor keseimbangan ekosistem hutan cagar alam tersebut. Sehingga alangkah sayang sekali jika sempat terjadi pembalakan liar. Akan kemana lagi para hewan itu harus mengungsi mempertahankan hidupnya. Untuk itu dibutuhkan berbagai pihak yang menjaga dan melestarikan tempat tersebut.
Demikian juga pemikiran tentang arti penting kawasan konservasi tersebut juga harus ditanamkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat tempatan. Sehingga keberlangsungan hidup, keanekaragaman hayati dan keaslian Cagar Biosfer tesebut dapat terjaga.(asrul-gsj/dac)

Senin, 24 September 2012

Bangau Bluwok, Unggas Langka Riau yang Terancam Punah

BANGAUBluwok (Mycteria cinerea) adalah satu dari berbagai burung lain yang statusnya terancam punah atau dilindungi. Spesies ini dimasukkan ke dalam kategori rentan (vulnerable) dengan penyebab utama ancaman kepunahan adalah semakin berkurangnya habitatnya di alam. Artinya, spesies ini memiliki peluang punah lebih dari 10 persen dalam waktu 100 tahun, jika tidak ada upaya serius untuk melindunginya.
Di Indonesia, keberadaan burung ini hanya berjumlah  5.900 ekor yang tersebar di seluruh pulau, Jawa, Sumatera, Sumbawa, Bali dan Sulawesi. Dan spesies ini juga menghuni kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (CBGSK-BB).
Bangau Bluwok adalah jenis bangau yang berukuran besar dengan tinggi sekitar satu meter (91-95 cm). Tubuhnya dibalut bulu bewarna putih kecuali pada bagian ekor dan bulu terbang yang berwarna hitam. Karena warna tubuhnya, bangau ini dalam bahasa Inggris lantas dinamai Milky Stork (Mycteria Cinerea).
    Paruhnya kuning panjang dan melengkung. Kulit muka berwarna merah jambu sampai merah dan tidak berbulu. Burung yang belum dewasa berwarna coklat keabu-abuan dengan tungging putih dan warna irisnya coklat serta kakinya abu-abu. Kakinya jenjang dan panjang dengan jari-jari yang didesain untuk berjalan dengan nyaman di tanah-tanah becek, berlumpur, seperti di rawa tetapi juga mampu dipakai untuk bertengger di dahan-dahan pohon tempat mereka bersarang. Keunikan inilah yang menyebabkan spesies ini diburu sehingga saat ini populasinya yang semakin sedikit.
Belum lagi burung ini hanya bertelur tak lebih dari empat butir, sedangkan anakan hanya 2 ekor saja. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan bahaya kepunahan. Maka dari itu kita perlu langkah konservasi sedini mungkin akan bahaya ini. (melati-gsj/dac)
 

Senin, 17 September 2012

Rasau, Si Pandan Duri



CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSK-BB) menyimpan berbagai macam keanekaragaman hayati. Salah satunya adalah pandan duri yang tumbuh di sepanjang sungai di Resort Bukit Batu.
Pandan duri merupakan salah satu tumbuhan monokotil dari genus pandanus. Sebagian besar anggota dari pandan-pandanan ini merupakan tumbuhan yang tumbuh di pantai-pantai daerah tropika. Anggota tumbuhan ini dicirikan dengan daun yang memanjang seperti daun palem atau rumput, seringkali tepinya bergerigi seperti pandan duri ini.
“Masyarakat di sini biasa menyebut tanaman ini dengan sebutan humbai atau rasau,” Ungkap Amir, salah satu staf Flagship Conservation Sinarmas Forestry yang juga masyarakat setempat.
Tumbuhan yang memiliki daun berduri ini biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan baku untuk tikar dan juga bakul. “Tumbuhan ini juga lebih keras dibandingkan pandan pada umumnya,” ungkap Amir lagi. (afra-gsj/dac)

Sabtu, 15 September 2012

SAM KEHUTANAN RESMIKAN SEKRETARIAT CAGAR BIOSFER DAN ASARI


GSKBB - Staf Ahli Menteri (SAM) Kehutanan Dr Agus Mulyono meresmikan pemakaian Sekretariat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB)
dan Asosiasi Arowana Riau Indonesia (ASARI), Kamis (6/9) siang di Kompleks Perkantoran Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Jalan
Soebrantas. Kegiatan itu bersamaan pula dengan peresmian Sekretariat Unit Dharma Wanita Persatuan BBKSDA, Saka Wanabhakti dan Bina Cinta Alam.
"Sekretariat ini semoga dapat meningkatan kegiatan sosialisasi dan promosi Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Batu sebagai kawasan yang diakui dunia. Untuk ASARI, kami berharap ikut berkontribusi dalam pelestarian ikan arwana di alam," ujar Agus.

Hadir dalam peresmian itu Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Kurnia Rauf, Kepala BKSDA Riau Bambang Dahono Adji, Executive Director,

Environment and Stakeholder Relations, Sinar Mas Forestry (SMF) CP Munoz, Ketua ASARI Tri Wahyono, para penangkar ikan arwana dan tamu undangan lainnya.

Sekretariat cagar biosfer akan menjadi tempat pengembangan daerah inti dan edukasi tentang cagar biosfer GSKBB. "Kita berharap kemitraan dengan BBKSDA dan para duta cagar biosfer GSKBB dalam sosialisasi, promosi edukasi yang berkelanjutan dapat meningkatkan awareness tentang cagar biosfer," ujarnya.

Sementara itu Tri Wahyono, Ketua ASARI menyebutkan saat ini ada 24 penangkar arwana di Riau. Perusahaan-perusahaan itu perlu berasosiasi untuk mewujudkan pengusaha yang professional dan berwawasan lingkungan. Sekaligus juga bersatu menghadapi persaingan dengan Malaysia yang kini membangun penangkaran arwana secara besar-besaran dan mendapatkan dukungan pemerintahnya.