MERAUP RUPIAH DARI SILAIS DAN BAUNG
Ikan selais dan baung dapat dimanfaatkan sebagai komoditi. Kedua jenis ikan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi. Masyarakat Desa Tamiang Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, melihat potensi tersebut sebagai penambah pendapatan mereka. .
Sosialisasikan Cagar Biosfer Lewat Blog
CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) kini juga disosialisasikan melalui media internet. Tentunya di era kemajuan teknologi ini akses tercepat untuk mendapatkan informasi adalah melalui internet.
Tingkatkan Program Budidaya di Cagar Biosfer'
Suatu kawasan akan mempunyai kontribusi bagi manusia, apabila budidayanya baik. Karena dengan adanya budidaya itulah suatau kawasan dapat berkembang. Demikian halnya yang dilakukan oleh Sinarmas Forestry (SMF) terhadap Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).
Riau Miliki Pengolahan Air Gambut Terbesar
BUKITBATU (RP)- APAG 60 atau Alat Pengolaan Air Gambut 60 yang dipasang di Tanjungleban, Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan alat pengolahan air gambut terbesar di Indonesia
SAM KEHUTANAN RESMIKAN SEKRETARIAT CAGAR BIOSFER
GSKBB - Staf Ahli Menteri (SAM) Kehutanan Dr Agus Mulyono meresmikan pemakaian Sekretariat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB).
Selasa, 20 November 2012
Kayu Jongkang, Eksotisme yang Semakin Pudar
Nasib Si Hitam Manis Pencari Lebah
Selasa, 30 Oktober 2012
Buaya Muara, Hewan Ganas yang Mematikan
Selain itu ukuran tubuhnya adalah yang paling besar diantara jenis lainnya dengan panjang yang mampu mencapai 7 (tujuh) meter hingga 12 (duabelas) meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur. Buaya Muara (Crocodylus porosus) tersebar di seluruh perairan Indonesia, terutama aliran-aliran sungai hingga di muara sungai yang mendekati lautan.
Satwa ini dapat hidup di darat, di dalam air maupun di atas pohon. Bergerak kesana-kemari dengan cara melata, baik dengan dua pasang kakinya maupun tidak sama sekali. Famili Crocodylus ini senang berpetualang dari satu habitat ke habitat lain, maka tak heran populasinya menyebar di pelosok dunia. Buaya Muara dikenal sebagai buaya terbesar di dunia, jauh lebih besar dari Buaya Nil (Crocodylus niloticus) dan Aligator Amerika (Alligator mississipiensis).
Buaya Muara (Crocodylus porosus) tersebar di banyak negara seperti Papua Nugini, Australia Utara, Kepulauan Pasifik, Brunei, Myanmar, Kamboja, Filipina, Burma, India, Srilanka, Cina, Semenanjung Malaya, hingga Indonesia. Tapi di setiap negara populasinya makin merosot tajam sejak kulitnya diburu untuk dijual. Sehingga saat ini Buaya Muara (Crocodylus porosus) masuk ke dalam kategori Appendix 2 versi CITES.(dac/int)
Senin, 22 Oktober 2012
Kerusakan Hutan, Ancaman Kelestarian Populasi Burung
| NYARIS PUNAH: Treron Curvirostra jenis burung yang nyaris punah keberadaannya.(Ft.Diah_GSJ) |
INDONESIA memiliki keanekaragaman burung yang tinggi. Hal ini terbukti dari catatan dunia ilmiah tahun 2009 yang menyatakan bahwa jenis burung yang terdapat di Indonesia adalah 1598 jenis. Dari jumlah tersebut banyak terdapat jenis burung yang khas dan tidak ditemukan di belahan dunia lain.
Namun kelestarian burung sangat berpengaruh terhadap kelestarian hutan. Jumlah areal luasan hutan yang semakin berkurang dengan adanya kegiatan illegal loging maupun izin pemanfaatan hutan secara tak terkendali dapat mengancam keberadaan fauna burung.
Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) merupakan salah satu hutan yang masih tersisa di Provinsi Riau. Keberadaan GSK-BB sangat berperan penting dalam menjaga kelestarian keanekaragaman burung. Bahkan GSK-BB juga merupakan salah satu tempat persinggahan bagi burung-burung yang berasal dari Negara-negara subtropis seperti Jepang, pada saat musim dingin.
Masih banyaknya ancaman perambahan hutan di GSK-BB juga menjadi ancaman bagi spesies burung yang ada di Riau. “Hutan alam di wilayah inti Cagar Biosfer GSK-BB merupakan tempat atau rumah bagi banyak spesies burung hutan yang bergantung pada hutan alam tersebut. Beberapa diantaranya bahkan mengalami resiko penurunan populasi. Berdasarkan hasil pengamatan selama 1 tahun terakhir ini jumlah spesies burung yang dijumpai di wilayah GSK-BB khususnya daerah Suaka Margasatwa Bukit Batu yaitu 172 spesies burung,” jelas Dendy Sukma Haryadi, mahasiswa Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang baru saja menyelesaikan program studinya.
Dendy juga menambahkan, bahwa spesies-spesies burung hutan (burung spesialis hutan alami) tidak dapat dijumpai pada wilayah zona transisi dan zona penyangga dari cagar biosfer GSK-BB dimana vegetasi yang dijumpai merupakan vegetasi antropogenik (vegetasi yang telah berbeda dari kondisi alaminya karena ada campur tangan manusia-Red).
Hal ini menunjukkan bahwa vegetasi antropogenik tidak dapat mendukung kebutuhan hidup dari spesies burung hutan. Sementara hutan di Indonesia mengalami deforrestasi mencapai 3,22 persen per tahun pada periode 1997 sampai 2005 yang tentunya sangat mempengaruhi kelestarian burung-burung di Indonesia.
Menilik keanekaragaman jenis burung yang masih tersisa di GSK-BB, Dendy menyatakan bahwa dari 172 jenis burung yang dijumpai di GSK-BB saat ini, 3 spesies tercatat sebagai “vulnerable species”atau spesies yang menghadapi resiko kepunahan yang tertinggi.
Selain itu International Union for the Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN)Red List 2011 juga mencatat,adanya spesies burung Puyuh hitam (Melanopedrix niger), Sempidan merah (Lophura erythrophthalma) dan Empuloh paruh-kait (Setornis criniger), dan 32 spesies lainnya masuk dalam kategori “Near-threatened species” atau spesies yang hampir punah seperti Betet ekor panjang, Nuri tanau, Kadalan beruang, Luntur Kasumba, Luntur Diardi, Luntur Putri, Julang jambul hitam, Kangkareng hitam, Enggang cula, Enggang papan, Rangkong gading, Takur, Caladi badok, Sempur hujan darat, Sepah tulin, Cipoh jantung, Cica daun kecil, Cucak rumbai kuning, Brinji bergaris, Pelanduk merah, Pelanduk dada putih, Asi topi jelaga, Asi besar, Asi dada kelabu, Kucica ekor kuning, Seriwang jepang, Pentis kumbang.
Besarnya keanekaragaman burung yang terdapat di GSK-BB tak lepas dari syarathidup ideal bagi burung-burung yang masih dimiliki oleh GSK-BB. (diah-gsj/dac)
Tweet
Keanekaragaman Paku-pakuan
| PAKU-PAKUAN:Paku-pakuan salah satu jenis tumbuh-tumbuhan yang menambah keanekaragaman GSK-BB.(Ft.Diah_GSJ) |
Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) merupakan cagar biosfer ketujuh yang memiliki karakteristikan dan berbeda dari agar biosfer lainnya di Indonesia. Keunikan GSK-BB disebabkan karena di dalamnya terdapat berbagai ekosistem. Diantaranya adalah hutan rawa gambut, tasik-tasik dan berbagai sumber daya alam lainnya.
Beragamnya jenis ekosistem di GSK-BB mempengaruhi keanekaragaman jenis flora dan fauna yang menghuninya. Paku-pakuan merupakan salah satu jenis tumbuh-tumbuhan yang menambah kekayaan keanekaragaman GSK-BB. Meskipun kita sering melihat tumbuhan yang masih tergolong tumbuhan tingkat rendah ini, namun kita sering tidak menghiraukannnya dan menganggapnya sebagai tumbuhan yang kurang penting.
“Tumbuhan ini termasuk tumbuhan pioner yang mampu tumbuh sebelum jenis lain tumbuh. Selain itu, paku-pakuan juga berperan sebagai penyedia oksigen, penyerap air, habitat hewan kecil dan indikator lingkungan,” jelas Eka Indra Haryanti yang mencoba mengungkap manfaat tumbuhan berpembuluh yang tidak menghasilkan biji ini.
“Selain itu, kini banyak jenis paku-pakuan yang telah dijadikan sebagai tanaman hias,” tutur Eka menambahkan.
Dalam penelitiannya, Eka yang tengah melakukan penelitian di Zona Penyangga dan Zona Transisi GSK-BB mencoba mengungkapkan manfaat lain dari tumbuhan paku. Seperti paku ekor kuda (Equisetum debile), paku tanduk rusa (Platyceriumcoronarium) dan paku suplir (Adiantum sp) sebagai tanaman hias, Diplaziumesculentum dapat dijadikan sebagai sayuran, untuk pembuatan pupuk hijau seperti Azollapinnata serta sebagai pelindung tanaman di persemaian seperti Gleichenialinearis. “Pemanfaatan tumbuhan paku sebagai sumber obat tradisional juga telah banyak dilaporkan. Seperti halnya paku resam (Gleichenialinearis) yang mana remasan daunnya digunakan untuk obat luka dan seduhan daunnya digunakan untuk obat demam. Dari manfaat paku-pakuan tersebut, Eka yang merupakan mahasiswi tingkat akhir jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Riau (FMIPA UR) ingin menggali keanekargaman paku-pakuan di GSK-BB.(diah-gsj/dac)
Tweet
Hylarana Rawa Miliki Perbedaan Jarak Genetik
![]() |
| Hylarana Rawa: Katak Langka yang ditemukan Giam Siak Kecil dengan perbedaan jarak genetik.(Ft Internet) |
PENEMUAN Spesies Katak Baru di Giam Siak Kecil Spesies katak baru dari genus atau marga Hylarana berhasil diidentifikasi peneliti. Katak ini ditemukan di rawa-rawa gambut yang ada di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, bagian dari Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu di Riau, sebuah provinsi di bagian tengah Pulau Sumatera.
Spesies katak baru bernama Hylarana Rawa yang diidentifikasi oleh Masafumi Matsui dari Kyoto University serta Mumpuni dan Amir Hamidy dari Pusat Riset Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu sudah dipublikasikan di the Herpetological Society of Japan pada Juni 2012.
Amir Hamidy menjelaskan menurut hasil analisis molekuler spesimen katak yang diteliti memiliki perbedaan jarak genetik cukup besar yakni antara 13,9 persen dan 15,7 persen dari jenis-jenis lain sekerabatnya sehingga dikategorikan sebagai jenis baru.
“Umumnya jarak genetik di gen 16 SRNA antar jenis katak hanya tiga persen sampai empat persen. Penemuan ini sangat menguatkan bahwa spesimen ini merupakan jenis baru,” kata Amir, peneliti LIPI yang sedang belajar di Kyoto University, Jepang.
Para peneliti selanjutnya juga mencari karakter morfologi yang membedakan katak jenis baru itu dengan katak jenis-jenis lain yang sekerabat, dan berhasil mengidentifikasi salah satu karakter seks sekunder pada spesimen katak jantan yakni keberadaan kelenjar di lengan atas atau humeral gland yang sangat besar dibandingkan dengan ukuran badannya.
Selain memiliki humeral gland yang merupakan ciri seks sekunder katak jantan beberapa marga, katak jenis baru itu juga memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil untuk ukuran katak dewasa marga Hylarana, serta selaput kaki yang minimum.
“Karena bukti-bukti kuat telah kami temukan selanjutnya kami mendiskripsikannya sebagai jenis baru. Jenis baru ini kami beri nama Hylarana rawa. Nama spesies ini kami ambil dari kata ‘rawa’ yang merupakan habitat dari jenis ini,” jelasnya.
Habitat Hylarana rawa merupakan rawa gambut yang pH-nya cukup rendah (asam). Tidak semua jenis katak bisa hidup di daerah rawa gambut yang asam, hanya jenis-jenis tertentu saja yang bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan seperti itu.(melati-gsj/dac)
Tweet
Askul Tinjau Lokasi Penanaman Jelutung
Selain GSJ juga hadir tiga orang Jepang, dua dari pihak Askul yakni Shunichiro Azuma dan Hideshi Kitamura serta satu dari pihak Asia Pulp and Paper (APP) Jepang yakni Koichi Morizumi. Sebagai konsumen produk APP pihak Askul ini bertujuan untuk melihat lokasi penanaman Jelutung yang ditanam di Resort Bukit Batu sejak November tahun lalu.
Menurut Johannes Koto, Forest Conservation Sinarmas Forestry penanaman jelutung yang dilakukan oleh Sinarmas dan Kelompok Masyarakat Peduli Hutan (KMPH) ini merupakan simbiosis mutualisme.
“Jelutung ini ditanam bertujuan untuk membantu masyarakat setempat juga, jadi di sini kita mengharapkan masyarakat nantinya juga bisa mengambil manfaat dari jelutung ini sehingga masyarakat tidak perlu merambah hutan,” ungkap Johanes Koto.
Jelutung ini sendiri bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti getahnya bisa digunakan untuk kosmetik atau kayunya bisa digunakan untuk batang pensil. Untuk menuju lokasi penanaman jelutung tersebut digunakan speed boat, karena lokasi penanaman berada di tepi sungai yang ada di sekitar cagar biosfer Bukit Batu.
Berdasarkan keterangan dari Syamsudin, Ketua KMPH luas dari masing-masing lokasi tersebut antara lain, lokasi pertama memiliki luas 0,375 hektare sementara lokasi kedua seluas 0,75 hektare. Sedangkan lokasi ketiga memiliki luas 2,25 hektare dan lokasi keempat memiliki luas 3 hektare. Jelutung-jelutung tersebut ditandai dengan batang kayu bercat merah disebelahnya.
Dari ke empat lokasi penanaman tersebut memiliki perbedaan antara lokasi yang satu dengan yang lainnya. Jelutung yang ditanam pada lokasi pertama dan kedua tampak tidak terlalu subur, bahkan juga ada beberapa yang mati. Berbeda dengan jelutung di lokasi keempat yang tampak cukup subur.
“Memang terlihat perbedaan yang signifikan, karena jelutung memang biasanya tumbuh subur di tanah rawa yang sedikit lebih basah. Dan dari lokasi-lokasi tersebut pada lokasi keempat tanahnya memang lebih basah dibandingkan yang lainnya,” ungkap Iwan Setiawan dari Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) yang juga ikut bersama rombongan.
Lokasi terakhir (lokasi empat, red) tersebut ditanam pada akhir Juli lalu. Pada lokasi keempat ini jelutung ditanam dengan jarak antar tanaman seluas 5x3 meter. (afra-gsj/dac)
Tweet







