MERAUP RUPIAH DARI SILAIS DAN BAUNG

Ikan selais dan baung dapat dimanfaatkan sebagai komoditi. Kedua jenis ikan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi. Masyarakat Desa Tamiang Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, melihat potensi tersebut sebagai penambah pendapatan mereka. .

Sosialisasikan Cagar Biosfer Lewat Blog

CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) kini juga disosialisasikan melalui media internet. Tentunya di era kemajuan teknologi ini akses tercepat untuk mendapatkan informasi adalah melalui internet.

Tingkatkan Program Budidaya di Cagar Biosfer'

Suatu kawasan akan mempunyai kontribusi bagi manusia, apabila budidayanya baik. Karena dengan adanya budidaya itulah suatau kawasan dapat berkembang. Demikian halnya yang dilakukan oleh Sinarmas Forestry (SMF) terhadap Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).

Riau Miliki Pengolahan Air Gambut Terbesar

BUKITBATU (RP)- APAG 60 atau Alat Pengolaan Air Gambut 60 yang dipasang di Tanjungleban, Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan alat pengolahan air gambut terbesar di Indonesia

SAM KEHUTANAN RESMIKAN SEKRETARIAT CAGAR BIOSFER

GSKBB - Staf Ahli Menteri (SAM) Kehutanan Dr Agus Mulyono meresmikan pemakaian Sekretariat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB).

Jumat, 12 Agustus 2011

AURI, Aman dan Asri untuk dilewati

Aktivitas masyarakat Riau, Pekanbaru khususnya tak jauh dari kendaraan, baik roda dua mapun roda empat. Pemproduksian kendaraan kini pun semakin meningkat seiring permintaan konsumen, khususnya roda dua. Bayangkan jika dalam waktu setahun sekali produksi meng-out 1.000 unit roda dua, sedangkan kebutuhan bahan bakar sehari saja 1 liter. Tidak terhitung berapa liter bahan bakar habis selama setahun masa produksi kendaraan roda dua. Itu baru roda dua saja, belum lagi kalau roda empat yang kebutuhan bahan bakarnya lebih besar lagi. Apa hubungannya pemproduksian kendaraan, penggunaan bahan bakar dengan kondisi lingkungan pada saat ini. Jelas saja ada hubungannya, asap yang keluar dari kendaraan berasal dari bahan bakar yang digunakan secara berlebihan. Akibatnya, asap kendaraan tersebut lepas keudara. Namun, udara yang kita hirup akan terasa sehat dan bersih jika di filter oleh tanaman atau pohon yang tumbuh disetiap sudut jalan. Tapi berbeda kenyataannya saat ini, melihat dikiri dan kanan alan raya sangat jarang sekali terlihat pohon atau tanaman yang sengaja ditanam untuk memfilter udara yang tercemar akibat asap kendaraan. Mungkin bisa dihitung berapa jumlah jalan yang nyaman dilewati, salah satunya adalah kompleks AURI. Jalan alternatif yang menghubungkan jalan Jendral Sudirman dengan Adi Sucipto menuju jalan HR. Subrantas Panam.

Bagi masyarakat yang biasa melewati jalan ini, saat ditanya Duta Cagar Biosfer mengapa mereka melewati kompleks AURI tersebut, mereka menjawab ”Selain sejuk, bersih, aman dan nyaman jalan ini juga asri, sepanjang jalan di kompleks ini ditumbuhi pohon yang menjulang tinggi, jika lewat siang hari bisa terhindar dari panas, berbeda dengan jalan raya yang begitu macet dan panas, pokoknya tidak nyaman” tutur sumber itu.” Sekilas komentar dari pengendara yang melintasi kawasan AURI sebagai jalan alternatif tersebut menggambarkan ketidaknyamanan mereka terhadap kondisi lingkungan saat ini. Udara yang panas dan tidak sehat serta macet menjadi alasan utama mereka melewati AURI setiap harinya. Seribu pohon yang ditanam belum cukup untuk menetralisir udara panas saat ini, karena masih ada hal lain yang harus diperhatikan lagi. Kembali lagi, pemproduksian kendaraan khususnya roda dua. Karena hal tersebut sangat berhubungan dengan lingkungan, dan lingkungan juga sangat berhubungan dengan manusia.

Hubungan timbal balik tersebut yang harus dijaga agar tidak ada yang dirugikan dnmerugikan. Tidak hanya udara yang sejuk, kebersihan dikompleks AURI juga sangat terjaga, tiap pagi petugas kebersihan tampak menyapu setiap sudut jalan dan membakar sampah daun-daun yang berguguran. Hal tersebut juga merupakan alasan mengapa jalan di kompleks ini sering dilewati pengendara, lewat dari jam 09.00 WIB sepanjang jalan menuju Adi Suciptp ini sudah tidak terlihat sedikitpun sampah. Karena petugas kebersihan LANUD bekerja membersihkan jalan tersebut dari pukul 06.00 WIB dini hari. Agar kenyamanan pengendara tetap terjaga saat melewati kawasan Angkatan Udara tersebut.

Kamis, 04 Agustus 2011

Hujan dan Kabut asap, akibat kerusakan lingkungan

Cuaca dingin ditutupi dengan kabut asap di Riau, Pekanbaru khusunya, hari kamis (4/8/2011) pagi membuat aktivitas masyarakat terganggu. Kabut asap yang terjadi belakangan ini adalah akibat kerusakan lingkungan. Dan tanpa kita sadari, kerugian yang kita rasakan seperti tadi pagi merupakan ulah kita yang tidak mau menjaga kelestarian lingkungan. Pembakaram lahan gambut,sampah, serta lahan hutan membuat asap berkumpul diudara da membuat polusi, ditambah lagi turunnya hujan yang berskala cukup deras. Semakin mengepullah seluruh komponen yang dampaknya sangat negatif bagi manusia. Tadi pagi sekitar jam 08.30 WIB di Jalan Jendral Sudirman hanya udara dingin dan kabut asap yang terasa, namun setelah memasuki kompleks AURI, hujan benar-benar tidak bisa kompromi. Sepanjang jalan Adi Sucipto hingga Panam diguyur hujan yang sangat deras hingga siang ini.

Hujan bukanlah komponen terbesar dalam kerusakan lingkungan, tetapi kebakaran lahan gambut, sampah, ataupun kebakaran hutan yang menjadi sumbernya, dan apabila setelah adanya pembakaran lalu diguyur dengan hujan yang sangat deras,maka udara yang kita hirup tidak bagus lagi untuk kesehatan. Karena gabungan antara kabut asap dan air hujan akan membentuk senyawa kimia yang dapat mencemarkan udara yang tidak bagus untuk kesehatan pernafasan manusia. Akibatnya udara memburuk, dan merugikan kita yang braktivitas diluar ruamh. Mau tidak mau kita harus membawa perlengkapan sebelum keluar rumah seperti, jaket, sarung tangan, dan masker. Agar pernafasan kita tidak terganggu saat berkendara. Hal yang kita alami pada pagi hari ini, bukan semata-mata karena Tuhan menurunkan hujan,tapi hal tersebut merupakan sebuah peringatanbagi kita agar lebih perhatian terhadap lingkungan. Terutama sekali jangan membakar lahan dan sampah. Menggunakan cara yang lebih aman dan terkendali, itu lah yang harus kita lakukan sebgai manusia yang berfikir. Yang nantinya tidak hanya kita yang mendapatkan manfaatnya, tetapi semua orang.

Pekanbaru Berkabut Dingin

Berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Indonesia, perkiraan cuaca di kota yang ada di Indonesia khususnya Pekanbaru hari ini, Jumat, 05 Agustus 2011, mengalami hujan ringan dengan suhu 21- 30 oC dan kelembapan 56- 97 %. Dan diperkirakan bahwa besok, Sabtu, 06 Agustus 2011 cuaca di Pekanbaru kembali cerah. Namun, jika dilihat kondisi pagi ini, Pekanbaru tidak mengalami hujan ringan hanya saja cuaca yang cukup mendung dan berembun serta udara yang sangat dingin. Jika dibandingkan dengan cuaca kemarin, hampis sama persis dengan udara yang sangat dingin. Kemarin hujan mengguyur Pekanbaru dan sekitarnya sejak pagi hingga sore hari. Dan hari ini, kondisi cuaca mendukung aktivitas masyarakat untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.

Untuk mengembalikan suhu normal suatu daerah seperti Pekanbaru, harus diperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Kenaikan suhu rata-rata bergantung pada kondisi alam dan lingkungan yang stabil. Kabut asap juga tidak seperti hari-hari sebelumnya, matahari condong terlihat menyinari tiap sudut kota. Namun kemacetan yang tidak terhindarkan lagi selama bulan ramadhan ini, jam-jam masuk kerja dan jam-jam pulang kerja serta saat menunggu buka puasa merupakan titik kemacetan yang luar biasa. Tetapi, dua hari belakangan ini, semenjak Pekanbaru dilandan cuaca yang tidak stabil kemacetan sedikit berkurang dibanding biasanya. Hal tersebut karena masyarakat enggan beraktivitas diluar rumah mengingat cuaca yang sangat dingin. Kondisi buruk lingkungan sangat berpengaruh bagi suhu rata-rata cuaca. Sebab, lingkungan memeliki fungsi untuk menyaring udara yang sudah tercemar dan baru kemabali melepaskan udara bersih yang bagus untuk kesehatan manusia. namun, dampak buruk langsung kita rasakan yaitu menghirup udara yang tidak bersih karena lingkungan sudah dirusak, akibatnya cuaca memburuk dan manusia dan makhluk hidup lainnya kerugian.

Kamis, 28 Juli 2011

Presentase GSA sambil Pelatihan Jurnalistik

Green Student Ambassador (GSA) atau Duta Lingkungan Provinsi Riau gencar mempromosikan cagar biosfer ke-7 di Indonesia yaitu Giam Siak Kecil Bukit Batu, cagar biosfer ini merupakan cagar biosfer pertama yang ada di Riau. Sabtu (23/7) lalu, seiring dengan pelaksanaan pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Save The Earth Foundation (SEFo) Riau Pos yang bertempat di aula BBKSDA Panam, menjadi kesempatan terbaik GSA untuk mensosialisasikan masalah isu-isu lingkungan seperti, pemanasan global, perubahan iklim, kerusakan ozon, terutama sekali para Duta Lingkungan semangat mensosialisasikan Giam Siak Kecil Bukit Batu.

Dari 27 siswa-siswi yang hadir pada pelatihan jurnalistik tersebut, terbukti bahwa tidak satupun dari mereka yang megetahui keberadaan Giam Siak Kecil Bukit Batu sebagai cagar biosfer pertama di Riau. Dan dengan adanya sosialisasi tersebut, pemahaman mereka tentang lingkungan serta keberadaan cagar biosfer sudah mulai tergambar saat banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada GSA. Teramat disayangkan, pengetahun para generasi muda tertutup oleh perkembangan zaman modern sekarang ini. hingga tidak lues pikiran mereka untuk mencerna hal baik yang tertinggal dibelakang.

“Ada yang tahu nggak kalau Riau memiliki cagar biosfer?” tutur GSA. Serentak para siswa-siswi yang mengisi ruangan menjawab “tidak”. Kekompakkan mereka menjawab mengenai pertanyaan tersebut bukanlah hal yang spele. Hal tersebeut merupakan bukti nyata bahwa begitu banyak generasi muda yang kurang pemahamannya tentang lingkungan apalagi pengetahuan mereka tentang cagar biosfer GSK BB. Pelatihan jurnalistik hari itu berlangsung serius, para siswa-siswi antusias mengajukan pertanyaan saat Ahmad Idris memberikan pengarahan tentang “Menulis ibarat berenang”. Ternyata, minat menulis peserta GSJ Weekend tampak jelas dengan dibuktikannya hasil tulisan mereka yang dibacakan saat Ahmad Idris meminta peserta untuk menulis bebas tentang apapun.

Materi diskusi tentang cagar biosfer memberi kesan menarik untuk diperbincangkan. GSA mengajukan pertanyaan bagi tiap peserta “Bagaimana kesimpulan presentase duta lingkungan tadi”.Dengan semangat percaya diri peserta dari Siak unjuk kemampuan untuk menyimpulkan presentase GSA. Suasana semakin semarak, karena GSA memberikan kenang-kenangan bagi peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar. Pelatihan tersebut ditutup dengan suasana yang ceria dengan foto bersama. Koordinator GSJ, Asrul Rahmawati, memberikan pengarahan bagi peserta untuk mempersiapkan kondisi fisik yang fit. minggu, 24 Juli 2011, para peserta GSJ Weekend berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas. Selain menyaksikan atraksi gajah, peserta GSJ Weekend juga diberi kesempatan mengelilingi halaman PLG dengan menaiki gajah. Tampak keceriaan yang terlepas usai menempuh perjalanan 1 jam untuk sampai di PLG.

Tidak jauh berbeda antusias peserta GSJ saat Azwar H. Nasotion, wakil ketua PLG yang bersahabat memberikan segudang informasi mengenai gajah-gajah yang mereka latih. Jumlah gajah yang ada di PLG Minas saat ini 24 ekor. Dulu sempat memiliki lebih dari 24 ekor gajah, namun sebagian gajah-gajah yang sudah terlatih tersebut banyak dimintai pihak ketiga. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan juga bagi puhak pengelola PLG untuk memantau langsung ke lapangan untuk melihat kondisi gajah-gajah yang berada pada pihak ketiga tersebut. kendala mengurus gajah-gajah tersebut tidak terlalu rumit, karena masing-masing gajah dilatih oleh satu mahot yang berpengalaman. Dari segi kesehatan, gajah-gajah ini sering terserang penyakit seperti cacingan. Hal tersebut mungkin karena kondisi lingkungan tempat gajah bermain tidak terjaga kebersihannya. Namun, Azwar H. Nasotion, selain wakil ketua PLG, beliau juga merupakan paramedis yang andil dalam kesehatan gajah-gajah di PLG bahkan gajah-gajah yang berada dipihak ketiga.

Usai para peserta GSJ Weekend secara bergantian menaiki gajah, para GSA pun tidak ketinggalan. Usai puas menaiki gajah-gajah tersebut, para peserta GSJ Weekend, GSA, Petugas PLG Minas, serta panitia berfoto bersama dengan memasang senyum lebar. Perjalanan hari itu tidak sampai disitu saja, perjalanan dilanjutkan menuju Daur Ulang (Dalang) Collection yang terletak di jalan Gajah Kulim. Selain melihat keunikan dari sampah daur ulang, peserta juga diberikan pengarahan oleh Sofia Seffen sebagai pendiri sekaligus pemilik Dalang Collection tersebut,”Bahwa sampah tidak selamanya menjijikkan.”

Daur ulang sampah-sampah yang terkumpul dari para pemulung tidak langsung diolah di Dalang Collection, tetapi diolah dirumah. Pengolahan dirumah itulah yang menambah pendapatan kaum ibu yang bekerja di Dalang Collection. Bekerja santai tapi menghasilkan nilai ekonomi. Tugas ibu-ibu dirumah hanya sekedar mencuci sampah-sampah yang sudah dipilih terlebih dahulu. Barulah dioalh menjadi tas, sandal, alas kaki dan lain sebagainya menggunakan mesin jahit. Pengerjaan dengan mesin jahit ini dilakukan oleh pekerja yang berpengalaman dibidangnya.

“Awalnya saya mendirikan Dalang Collection ini karena banyaknya permintaan kaum ibu pada tas yang sering saya gunakan saat berbelanja, karena permintaan itulah saya bertekat untuk mengembangkan usaha ini, hingga banyak barang-barang yang dapat saya hasilkan. Dengan memperkerjakan kaum ibu dan para pemulung, selain membantu perekonomian mereka, kami juga membantu mengurangi dampak buruk bagi lingkungan karena banyaknya sampah plastik yang tidak dimanfaatkan dengan baik.” ujar Sofia Seffen. Pelatihan jurnalistik perdana ini membuahkan hasil yang memuaskan. Antusias peserta yang besar serta pemateri yang baik oleh panitia serta kunjungan lapangan yang menarik menjadikan pelatihan tersebut berkesan sangat positif dimata masyarakat.

”Pesan saya kepada adik-adik sebagai generasi muda, mari kita bersama-sama menjaga lingkungan kita agar tidak berdampak negatif bagi kita, yaitu dengan cara memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang yang bisa digunakan lagi. Karena generasi muda inilah yang akan menjadi pundi-pundi masa depan nantinya,”tutup Sofia Seffen. Kunjungan ke lapangan hari itu berakhir di BBKSDA Panam, berakhirnya acara pelatihan tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi panitia pelaksana GSJ Weekend. Kesuksesan kegiatan GSJ Weekend yang pertama kali dilaksanakan bulan Juli ini akan berkelanjutan hingga akhir tahun.



Foto bersama di PLG Minas





Duta Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu
















Selasa, 12 Juli 2011

Rawa Gambut di Kawasan GSKBB

Lahan gambut dulu tidak diperhatikan, sekarang lahan gambut menjadi idola banyak kalangan, dari pemerintah, LSM hingga pengusaha. Catatan Greenpeace, suatu organisasi lingkungan global, total gambut di Indonesia ada 42 juta hektar alias 10 persen dari total gambut dunia. Di dalam 10 persen tersebut tentu termasuk lahan gambut yang ada di Giam Siak Kecil – Bukit Batu, Riau.

Biomassa di rawa gambut diketahui memiliki kandungan unsur karbon yang tinggi dan sejauh rawa gambut itu lestari, tentunya tidak ada kekhawatiran bahwa unsur karbon itu terlepas mempertinggi kandungan karbon di atmosfer yang menyumbang pada pemansan global. Apakah rawa gambut Giam Siak Kecil – Bukit Batu akan tetap lestari?

Secara keseluruhan ancaman itu telah dan masih ada. Citra satelit menunjukkan sejak tahun 1985 hingga tahun 2002, tutupan hutan di wilayah Giam Siak Kecil telah merosot dari sekitar 600.000 hektare menjadi kira-kira 350.000 hektare. Bagaimana dengan keadaan sekarang?

Ekosistem hutan rawa gambut di kawasan Suaka Margasatwa GSK sebagian besar telah mengalami gangguan baik penebangan liar, maupun perambahan lahan untuk pembukaan ladang dan pemukiman. Laporan LIPI (2007) menyebutkan bahwa wilayah Blok Tasik Betung, sebagian besar hutan rawa gambutnya sudah merupakan bekas tebangan liar. Sisa tegakan jenis primer hutan rawa gambut umumnya terdiri atas jenis-jenis tidak komersial dan berukuran relatif kecil. Hal ini kontras dengan ekosistem hutan rawa gambut kawasan konsesi PT Arara Abadi di Blok Bukit Batu yang tidak dikonversi masih relatif lebih baik. Penandanya adalah masih dijumpainya beberapa jenis utama yang berukuran cukup besar.

Perambahan terhadap hutan rawa gambut menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh badan pengelola cagar biosfer. Tindakan – tindakan di lapangan sering kali diikuti cara informal yang lebih berhasil daripada pendekatan formal. Badan pengelola yang mengikutsertakan setiap pemangku kepentingan diharapkan mempu menjembatani solusi.

Pelestarian ekosistem ini bukan hanya melindungi satwa genting, tetapi sekaligus menjadi penyimpan cadangan karbon yang cukup besar di wilayah Riau. Sedikitnya terdapat 7,3 giga ton karbon di kawasan inti cagar biosfer.

Harimau Sumatra : Si Belang yangTerancam Punah

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), dari namanya saja kita sudah tahu bahwa harimau ini hanya dapat ditemukan dipulau sumatra, termasuk di propinsi Riau. Harimau ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Kucing besar ini merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang dapat bertahan hidup hingga saat ini.

Harimau sumatra merupakan sub-spesies harimau terkecil yang memiliki warna lebih gelap daripada sub-spesies harimau yang lainnya. Salah satu yang menjadi keistimewaan harimau ini adalah ia dapat berenang dan memanjat pohon saat memburu mangsa. Harimau ini juga memiliki belang yang lebih tipis dibandingkan sub-spesies harimau yang lain.

Di propinsi Riau sendiri, harimau sumatra dapat di temukan di cagar biosfer Giam Siak Kecil Bukit-Batu (GSK-BB). Namun keberadaan harimau sumatra ini di propinsi Riau sendiri diprediksi akan punah pada tahun 2015. Mengapa bisa di prediksikan demikian? Tentu saja hal ini disebabkan karena adanya perusakan ekosistem dan menyebabkan si belang ini kehilangan habitatnya. Selain itu pemburuan terhadap harimau ini juga menjadi salah satu faktor menurunnya populasi harimau sumatra ini. Jangan sampai harimau yang menjadi kebanggaan kita ini menjadi ikut punah seperti para saudaranya terdahulu, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica). Semoga saja di CB-GSK-BB, kucing besar ini bisa dapat hidup dan berkembang biak dengan baik sehingga punahnya harimau sumatra ini tidak akan pernah terjadi.

Acryopsis Javanica GSK-BB

Tidak ada habisnya jika kita menguak cerita dari cagar biosfer ke-7 di Indonesia ini. Giam Siak Kecil Bukit Batu ibarat sebuah istana dalam tanah yang menyimpan segudang harta karun yang tidak ada habisnya. Plantarum ( tumbuhan ) Acryopsis Javanica merupakan salah satu tumbuhan yang mudah berkembang biak dikawasan hutan alam dan rawa-rawa serta memilki manfaat bagi kesehatan kita.

Mungkin sebagaian dari kita sudah mengetahui tentang tumbuhan yang satu ini, Acryopsis Javanica (anggrek) adalah tumbuhan yang merupakan genus Acriopsis. Anggrek yang satu ini merupakan tumbuhan herbal dalam bentuk epifit kecil. Sepintas anggrek ini mirip dengan anggrek genus Cymbidium, tetapi dalam hal habitat berbeda.

Indonesia merupakan area persebaran terbesar dari anggrek tersebut, GSKBB adalah salah satu habitat persebaran dari anggrek yang memiliki nama ilmiah Acryopsis Javanica , karena GSKBB merupakan kawasan hutan yang alami dan memiliki rawa-rawa sehingga mempermudah perkembangbiakkan anggrek genus yang satu ini. Selain Indonesia, anggrek herbal ini juga tersebar negara lain seperti, nepal di kepulauan solomon.

Tumbuhan herbal adalah tumbuhan yang identik dengan kesehatan. Begitu hal nya dengan Acryopsis Javanica yang memiliki khasiat bagi kesehatan kita. Sebagian dari kita mungkin tidak tahu, bahwa selain menjadi tumbuhan cantik yang menghias setiap sudut rumah, tumbuhan ini juga berkhasiat untuk menjaga daya tahan tubuh dan meredakan demam. Memang terdengar sedikit aneh, tumbuhan yang tadinya berfungsi untuk mempercantik rumah malah memiliki fungsi lain bagi kita.

Jika kita benar-benar memanfaatkan anggrek yang satu keluarga dengan Orchidaceae ini, secara langsung kita sudah menghemat pengeluaran untuk meredakan demam dengan berobat ke dokter. Sekilas tumbuhan ini memang tidak terlihat agresif untuk kesehatan. Tetapi jika kita telah mencoba, khasiat yang luar biasa itu akan kita rasakan.

Para peneliti plantarum telah melakukan sebuah riset yang membuktikan adanya senyawa kimia yang terdapat didalam Acryopsis Javanica berupa zat antibodi yang mampu membunuh virus penyebab demam serta mengembalikan daya tahan tubuh. Bagaimana bisa tanaman hias tersebut melakukan reaksi kimia yang mampu mengoptimalkan kesehatan kita jika kita tidak mencobanya sendiri.(Pia/GSJ)