MERAUP RUPIAH DARI SILAIS DAN BAUNG

Ikan selais dan baung dapat dimanfaatkan sebagai komoditi. Kedua jenis ikan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi. Masyarakat Desa Tamiang Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, melihat potensi tersebut sebagai penambah pendapatan mereka. .

Sosialisasikan Cagar Biosfer Lewat Blog

CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) kini juga disosialisasikan melalui media internet. Tentunya di era kemajuan teknologi ini akses tercepat untuk mendapatkan informasi adalah melalui internet.

Tingkatkan Program Budidaya di Cagar Biosfer'

Suatu kawasan akan mempunyai kontribusi bagi manusia, apabila budidayanya baik. Karena dengan adanya budidaya itulah suatau kawasan dapat berkembang. Demikian halnya yang dilakukan oleh Sinarmas Forestry (SMF) terhadap Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).

Riau Miliki Pengolahan Air Gambut Terbesar

BUKITBATU (RP)- APAG 60 atau Alat Pengolaan Air Gambut 60 yang dipasang di Tanjungleban, Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan alat pengolahan air gambut terbesar di Indonesia

SAM KEHUTANAN RESMIKAN SEKRETARIAT CAGAR BIOSFER

GSKBB - Staf Ahli Menteri (SAM) Kehutanan Dr Agus Mulyono meresmikan pemakaian Sekretariat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB).

Rabu, 21 September 2011

Harimau Sumatra : Si Belang yang terancam punah

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), dari namanya saja kita sudah tahu bahwa harimau ini hanya dapat ditemukan dipulau sumatra, termasuk di propinsi Riau. Harimau ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Kucing besar ini merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang dapat bertahan hidup hingga saat ini.

Harimau sumatra merupakan sub-spesies harimau terkecil yang memiliki warna lebih gelap daripada sub-spesies harimau yang lainnya. Salah satu yang menjadi keistimewaan harimau ini adalah ia dapat berenang dan memanjat pohon saat memburu mangsa. Harimau ini juga memiliki belang yang lebih tipis dibandingkan sub-spesies harimau yang lain.

Di propinsi Riau sendiri, harimau sumatra dapat di temukan di cagar biosfer Giam Siak Kecil Bukit-Batu (GSK-BB). Namun keberadaan harimau sumatra ini di propinsi Riau sendiri diprediksi akan punah pada tahun 2015. Mengapa bisa di prediksikan demikian? Tentu saja hal ini disebabkan karena adanya perusakan ekosistem dan menyebabkan si belang ini kehilangan habitatnya. Selain itu pemburuan terhadap harimau ini juga menjadi salah satu faktor menurunnya populasi harimau sumatra ini. Jangan sampai harimau yang menjadi kebanggaan kita ini menjadi ikut punah seperti para saudaranya terdahulu, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica). Semoga saja di CB-GSK-BB, kucing besar ini bisa dapat hidup dan berkembang biak dengan baik sehingga punahnya harimau sumatra ini tidak akan pernah terjadi.(Risky-GSJ)

Area Transisi (Transition Area)

Wilayah terluar dan terluas dari Cagar Biosfer adalah area transisi, umumnya terdapat berbagai kegiatan budidaya dari pemangku kepentingan dan masyarakat, dapat juga disebut juga sebagai “area untuk kerjasama”. Area transisi adalah lokasi untuk menerapkan berbagai model pembangunan berkelanjutan, di mana masyarakat setempat, lembaga-lembaga konservasi, organisasi masyarakat, kelompok budaya, pengusaha-pengusaha swasta dan pemangku kepentingan lain bekerja sama untuk mengelola dan mengembangkan sumber daya daerah yang bersangkutan.

Area transisi merupakan lokasi dimana pengembangan Cagar Biosfer diperkenalkan melalui kerjasama antara pengelola Cagar Biosfer, pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, pemilik lahan, peneliti, penyuluh, tokoh-tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan lain. Area ini pada umumnya lebih luas dibanding area inti dan zone penyangga, batas luarnya harus jelas namun tidak harus ditapal batas dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan permasalahan yang ada. Secara ekologis, zona penyangga dan area transisi dapat dilihat sebagai lansekap yang terdiri dari beberapa ekosistem sehingga dapat menjamin berfungsinya ekosistem area inti. Selain itu, dalam kegiatan pengelolaan Cagar Biosfer haruslah memperhatikan juga keanekaragaman hayati dalam zona penyangga dan area transisi, tidak hanya di area intinya, baik yang terdapat secara alami di kantong-kantong kawasan lindung maupun sengaja dibudidayakan sebagai upaya konservasi ex-situ.

Wilayah area transisi usulan Cagar Biosfer GSK-BB seluas sekitar 304.000 ha sebagian besar adalah lahan bebas non konsesi dan sebagian kecil areal hutan tanaman Sinar Mas Forestry seluas sekitar 5.665 ha. Area transisi di sebelah selatan dan timur dibatasi oleh batas alam Sungai Mandau – Sungai Siak sampai muaranya di Selat Panjang, sebelah utara adalah batas alam pantai Selat Bengkalis, serta sebelah barat dibatasi oleh jalan antara Guntung sampai Duri hingga jembatan Sungai Mandau di Balai Pungut. Kejelasan batas luar area transisi ini menjadi sangat penting dalam kaitannya mengidentifikasi para pemangku kepentingan yang berada di wilayah Cagar Biosfer GSK-BB.

Usulan Cagar Biosfer GSK-BB adalah merupakan upaya konservasi contoh ekoregion hutan gambut Sumatera dengan keistimewaan banyaknya “tasik” (danau kecil) di dalamnya. Cagar Biosfer GSK-BB terletak di daerah aliran sungai Siak Kecil yang mempunyai peran menjaga keseimbangan eko-hidrologi daerah sekitarnya termasuk kota Siak Sri Indrapura. Untuk itu Cagar Biosfer ini perlu mempunyai rencana pengelolaan yang tepat karena lansekapnya sangat layak dikembangkan untuk mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan, terutama memenuhi mandat Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, pasal 5, yaitu untuk (a) perlindungan sistem penyangga kehidupan; (b) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan (c) pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Ardisia sp Si komplit

“Banyak baca, banyak tahu”. Slogan itu masih berlaku di era globalisasi saat ini, karena memang semakin majunya bidang tekhnologi semakin jauhnya kehidupan masyarakat dengan konsep alam. Semua yang dilakukan menggunakan mesin, baik dari segi pembangunan dan pendidikan. Sampai-sampai dalam bidang pengobatan pun menggunakan tekhnologi. Dan tanpa diimbangi dengan pengetahuan membaca, maka kita tidak akan tahu bahkan tidak mau tahu akan bahaya dari penggunaan tekhnologi dalam jangka panjang, dan jika kita banyak tahu tentunya hal itu berawal dari keinginan kita untuk mencari tahu “apa sih Ardisia sp itu?”.

Konsep alam memang harus kita terapkan dalam kehidupan saat ini, karena banyak sekali manfaat yang luar biasa bagi kita. Tuhan YME menciptakan alam ini dengan fungsinya masing-masing, demikian hal nya cagar biosfer GSKBB yang tidak pernah habis kekayaan alam yang ada didalamnya. Selain anggrek yang bisa meredakan demam, cagar biosfer ini juga menyimpan jenis tumbuhan lain yang sama memiliki manfaat bagi kesehatan kita yaitu Ardisia sp.

Ardisia sp juga merupakan tumbuhan hias, dan kini pun masih banyak kita jumpai di setiap sudut rumah. Karena tanaman yang satu ini mudah dirawat dan mudah beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Di cagar biosfer, tumbuhan ini hidup sedikit jauh dari sumber air. Dan banyak kita jumpai dipekarangan pemukiman masyarakat. Sebab pola hidup tumbuhan yang satu ini cenderung ditempat yang agak kering. Tanpa disiram pun tumbuhan ini akan tetap tumbuh, karena memang tumbuhan yang satu keluarga dengan Myrsinaceae ini tahan terhadap cuaca kering.

Banyak hal yang tidak kita tahu tentang botani yang satu ini. Ardisia sp memiliki 3 genus yang masing-masing genus memiliki fungsi yang berbeda bagi kesehatan kita. Yang pertama ada Ardisia colorata, seduhan daunnya dapat digunakan sebagai obat mulas. Kedua, Ardisia humilis, tumbuhan daunnya bisa digunakan sebagai obat kudis. Tidak hanya itu, buah dari Ardisia humilis ini juga bisa digunakan sebagai obat cacing. Dan yang ketiga, ada Ardisia laevigata, daun mudanya bisa dilalap. Tumbuhan yang bagus sebagai hiasan juga bagus bagi kesehatan. Hemat biaya juga tidak berbahaya karena alaminya.

Masyarakat yang tinggal di GSKBB biasa menggunakan tumbuhan-tumbuhan yang telah diketahui manfaatnya bagi kesehatan mereka. Tidak jarang mereka terserang penyakit karena memang mereka benar-benar memanfaatkan sumber alam CB sebagai penopang kelangsungan hidup mereka.

Acryopsis Javanica GSK-BB

Tidak ada habisnya jika kita menguak cerita dari cagar biosfer ke-7 di Indonesia ini. Giam Siak Kecil Bukit Batu ibarat sebuah istana dalam tanah yang menyimpan segudang harta karun yang tidak ada habisnya. Plantarum ( tumbuhan ) Acryopsis Javanica merupakan salah satu tumbuhan yang mudah berkembang biak dikawasan hutan alam dan rawa-rawa serta memilki manfaat bagi kesehatan kita.

Mungkin sebagaian dari kita sudah mengetahui tentang tumbuhan yang satu ini, Acryopsis Javanica (anggrek) adalah tumbuhan yang merupakan genus Acriopsis. Anggrek yang satu ini merupakan tumbuhan herbal dalam bentuk epifit kecil. Sepintas anggrek ini mirip dengan anggrek genus Cymbidium, tetapi dalam hal habitat berbeda.

Indonesia merupakan area persebaran terbesar dari anggrek tersebut, GSKBB adalah salah satu habitat persebaran dari anggrek yang memiliki nama ilmiah Acryopsis Javanica , karena GSKBB merupakan kawasan hutan yang alami dan memiliki rawa-rawa sehingga mempermudah perkembangbiakkan anggrek genus yang satu ini. Selain Indonesia, anggrek herbal ini juga tersebar negara lain seperti, nepal di kepulauan solomon.

Tumbuhan herbal adalah tumbuhan yang identik dengan kesehatan. Begitu hal nya dengan Acryopsis Javanica yang memiliki khasiat bagi kesehatan kita. Sebagian dari kita mungkin tidak tahu, bahwa selain menjadi tumbuhan cantik yang menghias setiap sudut rumah, tumbuhan ini juga berkhasiat untuk menjaga daya tahan tubuh dan meredakan demam. Memang terdengar sedikit aneh, tumbuhan yang tadinya berfungsi untuk mempercantik rumah malah memiliki fungsi lain bagi kita.

Jika kita benar-benar memanfaatkan anggrek yang satu keluarga dengan Orchidaceae ini, secara langsung kita sudah menghemat pengeluaran untuk meredakan demam dengan berobat ke dokter. Sekilas tumbuhan ini memang tidak terlihat agresif untuk kesehatan. Tetapi jika kita telah mencoba, khasiat yang luar biasa itu akan kita rasakan. Para peneliti plantarum telah melakukan sebuah riset yang membuktikan adanya senyawa kimia yang terdapat didalam Acryopsis Javanica berupa zat antibodi yang mampu membunuh virus penyebab demam serta mengembalikan daya tahan tubuh. Bagaimana bisa tanaman hias tersebut melakukan reaksi kimia yang mampu mengoptimalkan kesehatan kita jika kita tidak mencobanya sendiri.(pia/GSJ)

Kamis, 08 September 2011

Perubahan Iklim Mengubah Ekosistem

Perubahan iklim membuat perubahan besar dalam ekosistem, seperti perubahan siklus hidup tumbuhan dan hewan dan peningkatan level permukaan laut. Demikian hasil penelitian yang disampaikan oleh Patrick Gonzales, US National Park Service dalam presentasi "Discovering Ways to Vulnerable Ecosystems Adapt to Impacts of Climate Change" pada 2011 Indonesian-American Kavli Frontiers of Science Symposium, Sabtu (9/7/2011) lalu di Bogor.

Ia menjelaskan, perubahan iklim menggeser waktu vegetasi berbunga serta migrasi hewan. Peristiwa-peristiwa secara tidak langsung memengaruhi siklus hidup tumbuhan dan hewan, dan pada akhirnya, memengaruhi kelangsungan ekosistem.

"Indikasi dari perubahan iklim juga terdeteksi menggandakan kematian pohon di Amerika Serikat selama 1955 hingga 2007," jelasnya. "Dampak besar lainnya, kenaikan temperatur dan ketinggian permukaan laut," tambah Gonzales.

Penelitian Gonzales mengamati berbagai wilayah di seluruh dunia ini. Pada sejumlah area yang ekosistemnya mengalami perubahan besar, menurutnya, "Lebih terkait karena faktor perubahan iklim daripada faktor-faktor lain."

Riset ini, menurut Gonzales, diharapkan dapat menyediakan informasi dan data yang bisa dipakai sebagai rujukan dalam mengelola metode-metode adaptasi terhadap perubahan ini. "Saat tidak memungkinkan lagi, relokasi diperlukan," katanya.

Responding to the Global Climate Change and Millenium Development Goals (MDGs)

Indonesia believes that to ensure sustainable development, it is imperative to integrate the socio-economic and natural resources conservation and continous improvement of ecosystem quality. It is expected that through this development, the community welfare can be improved while addressing socio-economic and cultural aspects. The emergence of the new understanding, That economic deevelopment needs the sustainability of natural resources, provides hope in the realization of the biosphere concept of management in indonesia.
The Biosphere Reserve enables stakeholders to achieve stable and healthy economic development practices and strong positiv attitude in understanding the importance of natural resources conservation for the future of mankind.
The global challenges that the Giam Siak Kecil-Bukit Batu Biosphere Reserve initiative seeks to answer are:
accelerated climate change with adverse qonsequences to societies and ecosystems
accelerated loss of biological and cultural diversity that impact on the ability of ecosystems to continue to provide services critical for human wellbeing
rapid urbanization as a driver of enviromental change leading to degradation. The internasional program like “Man and the Biosphere” is designed to meet these challenges.

Regional focused projects are being launched around the world to seek and develop new methods and practices to preserve the quality of the natural enviroment for all humankind over the long term.

Future actions in Giam Siak Kecil-Buit Batu Biosphere Reserve to the climate change and MDG challenges are:
1. Research, training, capacity building and demonstration agendas of MAB at the interface between the interlinked issues of conservation and sustainable use of biodiversity, mitigation and adaptation to climate change, and socio-economic and cultural well-being of human communities
2. Develop Giam Siak Kecil-Bukit Batu Biosphere Reserve as learning site for sustainable development, i.e. demonstrating approaches to enhance co-operation amongst stakeholder to improve enviromental, economic and social conditions
3. Public awareness initiatives

Laporan Hasil Quisioner Survey Agustus 2011



Kegiatan survey ini merupakan agenda kerja Duta Cagar Biosfer GSK BB pada Agustus 2011, yang telah dilaksanakan sejak tanggal 1-31 Agustus 2011. Adapun tujuan pelaksanaan quisioner survey ini adalah agar masyarakat umum khususnya generasi muda mengetahui keberadaan Giam Siak Kecil-Bukit Batu sebagai cagar biosfer pertama yang ada di Riau. Sealigus merealisasikan peran penting lingkungan dalam kehidupan manusia.

  1. Bentuk kegiatan
    • Quisioner survey (via online & fotokopi)

  1. Sasaran
    • Generasi muda (Pelajar dan mahasiswa)
    • Masyarakat umum

  1. Quisioner
a.    Apakah anda mengetahui keberadaan Giam Siak Kecil-Bukit Batu sebagai cagar biosfer pertama di Riau ?
b.      Dari manakah anda mengetahui Giam Siak Kecil-Bukit Batu tersebut ?
c.       Layakkah kondisi lingkungan di Riau saat ini ?
d.      Apakah anda mengetahui program pemerintah tentang Go Green ?
  1. Hasil quisoner Survey dengan riset 100 orang pelajar
            a. quisioner A
    • Tahu                            : 23%
    • Tidak tahu                   : 66%
    • Ragu-ragu                   : 11%

b. quisioner B
    • Web                             : 13%
    • Koran                          : 9%
    • Televisi                        : 1%

c.quisioner C
    • Layak                          : 19%
    • Tidak layak                 : 69%
    • Tidak tahu                   : 12%

                  d. quisioner D
    • Tahu                            : 53%
    • Tidak tahu                   : 34%
    • Ragu-ragu                   : 13%
  

        Hasil quisioner survey dengan riset 100 warga masyarakat

            a. quisioner A
    • Tahu                            : 13%
    • Tidak tahu                   : 47%
    •  Ragu-ragu                  : 40%  
           b. quisioner B
    • Web                             : 12%
    • Koran                          : 23%
    • Televisi                        : 1%

          c. quisioner C
    • Layak                          : 69%
    • Tidak layak                 : 11%
    • Tidak tahu                   : 22%

          d. quisioner D
    • Tahu                            : 65%
    • Tidak tahu                   : 11%
    • Ragu-ragu                   : 24%

        Hasil quisioner survey via online

            a. quisioner A
    • Tahu                            : 83%
    • Tidak tahu                   : 7%
    •  Ragu-ragu                  : 10%
           b. quisioner B
    • Web                             : 82%
    • Koran                          : 12%
    • Televisi                        : 1%

          c. quisioner C
    • Layak                          : 50%
    • Tidak layak                 : 30%
    • Tidak tahu                   : 20%

          d. quisioner D
    • Tahu                            : 55%
    • Tidak tahu                   : 15%
    • Ragu-ragu                   : 30%


       
  1. Tujuan akhir kegiatan quisioner survey
Melihat hasil quisioner baik via online maupun secara langsung dalam bentuk fotokopian pertanyaan dengan riset yang telah ditentukan, hanya diperlukan sedikit pembenahan sosialisasi dengan umum tentang keberadaan GSK BB tersebut. Sekian riset menunjukkan kurangnya pengetahuan umum tentang cagar biosfer tersebut. Untuk itu, berkenaan dengan agenda kerja duta pada bulan September 2011 yaitu sosialisasi ke sekolah-sekolah, universitas dan masyarakat umum tentang cagar biosfer GSK BB dan isu-isu lingkungan, duta akan mensosialisasikan info-info GSK BB tersebut kepada umum yang belum sama sekali mengetahui GSK BB dan isu-isu lingkungan tersebut. Dalam artian, kendala yang terdapat dalam tugas quisioner survey pada bulan Agustus 2011 akan dicerna kembali dalam bentuk sosialisasi pada bulan September 2011.

  1. Kesimpulan
Demikian laporan kegiatan quisioner survey yang telah dilaksanakan, dan akhir dari kegiatan ini akan menjadi nilai pertimbangan dalam agenda kerja duta pada September 2011, dan menjadikan hal tersebut sebagai cambuk khusus bagi duta agar lebih giat lagi bersosialisasi agar dunia kecil dan besar mengetahui keberadaan cagar biosfer GSK BB.