MERAUP RUPIAH DARI SILAIS DAN BAUNG

Ikan selais dan baung dapat dimanfaatkan sebagai komoditi. Kedua jenis ikan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi. Masyarakat Desa Tamiang Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis dan Desa Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, melihat potensi tersebut sebagai penambah pendapatan mereka. .

Sosialisasikan Cagar Biosfer Lewat Blog

CAGAR Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (CB GSK-BB) kini juga disosialisasikan melalui media internet. Tentunya di era kemajuan teknologi ini akses tercepat untuk mendapatkan informasi adalah melalui internet.

Tingkatkan Program Budidaya di Cagar Biosfer'

Suatu kawasan akan mempunyai kontribusi bagi manusia, apabila budidayanya baik. Karena dengan adanya budidaya itulah suatau kawasan dapat berkembang. Demikian halnya yang dilakukan oleh Sinarmas Forestry (SMF) terhadap Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).

Riau Miliki Pengolahan Air Gambut Terbesar

BUKITBATU (RP)- APAG 60 atau Alat Pengolaan Air Gambut 60 yang dipasang di Tanjungleban, Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan alat pengolahan air gambut terbesar di Indonesia

SAM KEHUTANAN RESMIKAN SEKRETARIAT CAGAR BIOSFER

GSKBB - Staf Ahli Menteri (SAM) Kehutanan Dr Agus Mulyono meresmikan pemakaian Sekretariat Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB).

Senin, 26 September 2011

Menggantungkan Kehidupan pada Ekosistem Rawa Gambut yang Memiliki Tasik

Giam Siak Kecil-Bukit Batu telah menjadi cagar biosfer bukan berarti segala sesuatunya selesai. Justru ini menjadi pekerjaan rumah bersama, pengelolaan kawasan harus dilakukan bersama antara pemerintah, swasta dan komunitas sesuai dengan area yang dikelolanya dan kompetensinya. Agar pengelolaannya dapat berjalan dengan baik, maka dukungan logistik terutama riset dan pengembangan kemampuan sumber daya manusia di kawasan ini menjadi sangat penting. Status cagar biosfer bukan merupakan tujuan akhir, melainkan awal dari kerja besar yang menanti.

“Kami mendukung pengelolaan kawasan ini. apalagi ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kami sedang merencanakan apa yang bisa kami buat dengan Bappeda,” ujar Burhanuddin Asisten Tata Praja (Asisten 1) Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkalis. Di Kabupaten Siak, kami mendapatkan pernyataan yang kurang lebih sama. “Kami sangat senang dengan inisiasi tersebut. menambah area konservasi tentu sesuatu hal yang baik. Kami sedang merencanakan apa saja yang dapat dikerjakan di Zona penyangga,” sebut Teten, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Siak.

Masyarakat Riau sangat beruntung karena cagar biosfer mempunyai batas pengelolaan yang jelas. Area inti berupa Suaka Margasatwa Siak Kecil dan Bukit Batu serta kawasan konservasi permanen SMF mempunyai tugas memelihara sumber daya alam yang ada di dalamnya, memonitor, dan mengundang ilmuan untuk melakukan penelitian sehingga kekayaan yang belum terungkap segera terungkap, potensi yang belum tergali segera muncul kepermukaan. Tugas manajer di area ini adalah untuk mendorong berdirinya berbagai kemungkinan kegiatan ekonomi berkelanjutan termasuk dan tidak terbatas pada industri pariwisata, pangan,obat berbasis bahan alam. Sementara itu tugas manajer di zona penyangga adalah untuk ikut menjaga area inti dari berbagai ancaman. Adalah juga tugas manajer di zona penyangga ini untuk membangun fasilitas laboratorium untuk mencari nilai ekonomi dari setiap sumber daya alam yang ada di kawasan Giam Siak Kecil-Bukit Batu serta dengan membangun pusat pendidikan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia untuk dapat mengelola kekayaan yang dimiliki oleh cagar biosfer ini. Sementara itu,masyarakat luas termasuk pemerintah daerah yang berada dikawasan transisi, sudah selayaknya mendapatkan manfaat yang berkelanjutan atas keberadaan cagar biosfer.

Kami telah beberapa kali mengunjungi kawasan ini. Kami pun pernah terbang diatas kawasan yang menjadi bagian penting di dalam ekosistem rawa gambut Riau. Kita dapat berbicara di dalam forum dunia melalui UNESCO bahwa kita mampu memelihara hutan rawa gambut sebagai stok karbon sekaligus meminta dukungan atas upaya tadi.

Kami bermimpi setiap produk yang dihasilkan dari kawasan ini, termasuk paket wisata yang ditawarkan dapat dikemas dengan merek dagang cagar buosfer GSK-BB. Dengan cara ini pula, produk yang dikeluarkan dari Riaudapat diberi label ramah lingkungan. Dukungan lembaga riset dan komitmen pemerintah daerah menjadi sangat sentral. Mimpi selanjutnya, kami dapat membeli paket makan siang di atas kapal pesiar kecil yang digerakkan dengan solar panel panel (tidak menggunakan bensin atau solar karena Riau adalah kawasan cagar biosfer). Lainnya, makan malam seraya menyusuri melihat keindahan alam Sungai Siak dengan kapal pesiar kecil yang digerakkan oleh listrik.

Persentase Duta Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu warnai semarak Green Weekend

Sabtu, 24 September 2011 tepatnya pukul 08.00 WIB digelar pembukaan Green Weekend School yang ke-2 di aula BBKSDA Provinsi Riau. Setelah sukses dengan kegiatan yang pertama digelar Juli 2011 lalu, kini Green Weekend kembali membuka wadah bagi generasi muda untuk belajar jurnalistik, tidak hanya itu para peserta juga mendapatkan pengetahuan dari Duta Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu tentang seluk beluk cagar biosfer pertama di Riau tersebut. hal ini merupakan wadah yang luar biasa untuk ketiga duta cagar biosfer,sebab mereka diberikan kesempatan untuk mempersentasekan GSK-BB selama kurang lebih 30 menit. Diselingi dengan tanya jawab peserta yang terdiri dari pelajardan mahasiswa. Persentase GSK-BB dimulai dengan pembukaan yang disampaikan oleh Wahyu Fitria Alqhansya Biwwahab, dilajutkan dengan perkenalan oleh Fiky Two Nando dan terakhir oleh Risky Ade Maisal. Lepas perkenalan tersebut Risky Ade Maisal memulai persentasenya dengan memperkenalkan cagar biosfer secara garis besar, dilanjutkan oleh Wahyu Fitria Alqhansya Biwwahab menyampaikan informasi mengenai GSK-BB tersebut. sesi pertanyaan pun dimulainya, begitu banyak antusias peserta yang ingin tahu tentang seluk beluk GSK-BB. “Giam Siak Kecil-Bukit Batu tersebut dikelola oleh pemerintah atau masyarakat?” ujar Siswi SMA N 3 Pekanbaru. “Karena GSK-BB merupakan cagar biosfer pertama kali di dunia yang diinisiasikan oleh pihak swasta, maka pengelolaannya pun dalam bentuk kerja sama antara pemerintah, SMF, dan masyarakat,” tutur Wahyu Fitria Alqhansya Biwwahab. 
 
Dengan pengetahuan yang mereka perol;eh dari berbagai sumber mengenai GSK-BB tersebut, maka duta cagar biosfer memiliki kewajiban untuk menyampaikan informasi tersebut kepada geberasi muda Riau. Karen duta cagar biosfer sendiri berstatus sebagai mahasiswa. Setelah sesi tanya jawab dan berdiskusi. Dilajutkan dengan persentase oelh Fiky Two Nando mengenai isu-isu lingkungan, tapi sebelum persentase disampaikan Fiky memulainya dengan sebuah perfomance puisi yang mengisi tiap sudut aula dengan tepuk tangan mengakhiri perfomnya. Penyampian isu-isu lingkungan pun menarik antusias para peserta dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Green Weekend ke-2 ini manjadi trik duta untuk menyadarkan dan memberikan masukan bagi generasi muda untuk dapat mengenal dan mengetaui GSK-BB. Semoga saja 1-2 Oktober mendatang peserta Green Weekend lebih banyak lagi sehingga penyampaian informasi mengenai GSK-BB dapat merubah pola pikir para generasi muda kini dan mendatang untuk melestarikan alam Riau tersebut.

Rabu, 21 September 2011

Sejarah Tasik Betung


Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu(GSK-BB) merupakan upaya konservasi contoh ekoregion hutan rawa gambut Sumatera dengan keistimewa banyaknya “tasik” (danau kecil) di dalamnya. Cagar Biosfer GSK-BB terletak di daerah aliran sungai Siak Kecil yang mempunyai peran menjaga keseimbangan eko-hidrologi daerah sekitarnya termasuk Kota Siak Sri Indrapura. Air adalah issue pokok dilansekap gambut ini karena dibawah permukaan tanahnya mempunyai ciri penampung air terutama di kawasan bagian tengah. Begitu banyak keindahan alam yang dipancarkan oleh tasik-tasik yang menjadi sumber penghidupan masyarakat disana, salah satunya adalah Tasik Betung.

Dibalik nama pasti ada sejarah mengapa nama tersebut disandang, nama-ama tasik di GSK-BB diberikan oleh masyarakat yang tinggal disekitar daerah tasik. Tasik Betung adalah salah satu tasik yang memiliki sejarah nama yang sederhana namun melegenda. secara etimologi, Tasik Betung terdiri dari kata ”tasik” dan kata ”betung”. “Berdasarkan penelusuran sejarah Desa Tasik Betung dengan wawancara tokoh masyarakat yang dituakan atau sesepuh kampung didapatkan sejarah Tasik Betung. Sejarah Tasik Betung bermula dari sebuah cerita seorang imam (Hakim Sholeh) berserta rakyat pengikutnya yang datang dari Siak Kecil mengunakan rakit mengarungi sungai dengan alat pengayuh berupa bambu betung,” ujar Yuyu Arlan Manager Flagship SinarMas Forestry.

“Selanjutnya imam tersebut berhenti ditepi tasik (danau). Beliau menancapkan bambu betung untuk mengikat rakitnya. Bambu tersebut kemudian tumbuh dan berkembang menjadi rumpun bambu. Oleh karena tempat pemberhentian tersebut tidak bernama maka diberilah nama Tasik Betung,” tambahnya.

Membayangkan sedemikian banyaknya tasik seperti sebuah mangkuk luar biasa besarnya yang menampung air dan menyimpannya, kemudian melepaskannya kembali saat musim kemarau tiba, sungguh keajaiban alam luar biasa. Desa-desa di hilir sungai tentunya dapat terhindar banjir saat musim hujan dan terhindar kekeringan saat musim kemarau, hanya dengan satu syarat yaitu jangan melakukan kerusakan lebih lanjut terhadap benteng terakhir alami yang tersisa di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, atau kita mengabaikan dan akhirnya bencana alam mengerikan yang akan terjadi, seperti banjir, kekeringan dan bahkan kebakaran sepanjang tahun.

Keindahan Dibalik 4 Jam Perjalanan

Menguak kisah dibalik panorama keindahan Giam Siak Kecil-Bukit Batu memang tak pernah ada habisnya. Tak jarang banyak sekali orang-orang yang penasaran dengan keajaiban alam tasiknya. Menempuh jarak sekitar 280 Km dari Kota Pekanbaru menuju Zona inti GSK-BB memakan waktu kurang lebih 4 jam lewat jalur darat dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi. Tidak menjadi hambatan atau pun halangan bagi mereka yang ingin berkunjung dan menikmati panorama alam GSK-BB tersebut. Sejauh mata memandang disepanjang perjalanan banyak terdapat perkampungan masyarakat, perkebunan karet dan para pekerja yang memilah-milah kayu untuk diolah. Jalan darat yang dilewati benar-benar memacu adrenalin kita, sebab sepanjang perjalanan memasuki kawasan GSK-BB merupakan jalan tanah yang bergelombang. Menyeramkan namun seru. Sembari menikmati jalan yang bergelombang, hamparan tanah gambut terlihat rapi tersusun. Tidak jarang siapapun pasti akan mengabadikan keindahannya dengan kamera.

Meskipun perjalanan yang ditempuh cukup lama, namun kelelahan didalam kendaraan terbayar sudah dengan keindahan alam yang dapat dinikmati setelah sampai di zona inti GSK-BB. Tumbuhan rasau dan bakung yang menghiasi tasik membentuk spot-spot kecil sehingga terlihat seperti pulau jika dilihat dari udara. Keindahan alam GSK-BB tidak dapat tergambarkan jika kita tak langsung berkunjung dan menikmatinya secara langsung.

“Menggambarkan keunikan alam dari tasik-tasik di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, tentu tak ada habis-habisnya. Keindahan alam dengan adanya perbedaan musim kemarau dan musim hujan, adalah bagian keunikan lain dari tasik di zona inti ini. Pada saat musim kemarau, tasik-tasik dengan air yang terkonsentrasi dalam jumlah terbatas di sungai dimanfaatkan oleh berbagai jenis satwa liar seperti Harimau, Rusa dan Babi Hutan sebagai sumber air minum. Pemandangan luar biasa terbentang luas saat datangnya musim kemarau, hijauan formasi rumput menutupi sebagian tasik-tasik yang mulai mengering menambah keunikannya. Bangunan tinggi menjulang bagi pemantauan satwa liar pada saatnya nanti akan membantu kita menyaksikan aktifitas maupun perilaku satwa liar dilokasi ini. Pada saat musim hujan tiba, hamparan luas rumput yang menutupi tasik-tasik selama musim kemarau berubah menjadi hamparan air hitam jernih, jutaan meter kubik air tertampung di tasik-tasik ini, dan saat inilah panen raya ikan tiba,” ujar Manager Flagship Concervation Sinarmas Forestry tersebut.

Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 4 jam dari Pekanbaru-Duri tidak hanya terbayarkan dengan keindahan tasik-tasik yang indah, tapi juga terbayarkan dengan keanekaragaman hayati yang terdapat didalam tasik tersebut. Adanya jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggri seperti, Wallago Attu (ikan tapah),Channa spp (ikan toman), Balllontia hasseltii (ikan kepar),Cryptoterus slais (ikan selais),Mystus nemerus (ikan baung). Keharmonisasian antara alam dan masyarakat disana terlihat jelas dengan adanya kebersamaan mereka mengelola alam GSK-BB menjadi sumber penghidupan bagi mereka namun tetap menjaga kelestarian alamnya demi masa depan kelak.

Riau adalah negeri yang kaya dengan adanya GSK-BB tersebut, semakin banyaknya partisipasi dari warga asing yang berkunjung kesana. Hal tersebut membuktikan bahwa GSK-BB menarik wisatawan karena keindahan alamnya yang cocok sebagai tempat wisata. Tidak ada salahnya menempuh perjalanan yang jauh demi menikmati panorama wisata di Riau ini.

Penelitian dan Pendidikan Sumber Daya Hutan Rawa Gambut

Kali ini berbicara soal penelitian dan pendidikan tentang bagaimana memngembangkan sumber daya hutan rawa gambut yang menjadi ciri khas dari cagar biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu (GSK BB). Berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati Cagar Biosfer GSK-BB, memang diperlukan pengamatan jangka panjang tentang dinamika hutan rawa gambut. Baik inventarisasi jenis perlu dilakukan secara berkala untuk menggali seluruh potensi dan sekaligus untuk memantau perubahan-perubahan yang terjadi. Dan juga dinamika fungsi hutan perlu di pantau dan dikaji secara menerus untuk melihat bagaimana responsnya terhadap fenomena alam yang terjadi, termasuk perubahan iklim. Semua bentuk kajian mengenai gatra struktur dan komposisi hutan, fungsi, status, keanekaragaman jenis, serta pengetahuan tentang penggunaan, budidaya, dan teknologi pemanfaatan keanekaragaman hayati perlu terus digali terutama untuk mengoptimalkan pendayagunaannya secara lestari dalam upaya pengembangannya.

“ Dan untuk menunjang kegiatan-kegiatan tersebut di atas layak dibangun stasiun penelitian di Desa Tasik Betung dan pembangunan kebun sumber daya hayati (bundayati) di Siak Sri Indrapura maupun Kota Bengkalis, sebagai wahana konservasi ex-situ untuk mengkaji berbagai pontensi keanekaragaman hayati yang tedapat dalam area inti Cagar Biosfer GSK-BB. Hal tersebut dilakukan, agar dapat difungsikan sebagai wadah untuk penelitian dan pendidikan pemberdayaan hutan rawa gambut tersebut,” jelas sumber tersebut.

Selain berperan dalam pengembangan pariwisata, cagar biosfer GSK-BB juga mempunyai peranan penting dalam pendidikan sumberdaya alam. Sebagai kawasan unik yang mempunyai perwakilan ekosistem rawa hutan gambut dengan ciri “tasik”nya serta masyarakat di sekitarnya yang masih mempunyai budaya dekat dengan alam adalah tempat yang ideal sebagai wahana pendidikan sumberdaya alam. Dengan berbagai keanekaragam flora dan faunanya, kawasan ini menyediakan bahan-bahan pendidikan bagi para pemuda, pelajar, mahasiswa maupun masyarakat untuk mengenal lebih jauh tentang keanekaragaman hayati dengan berbagai gatra biologi dan ekologinya.

Pendidikan dan penelitian sumber daya hutan rawa gambut dengan stasiun penelitian di lapangan merupakan ciri khas kedua dari Cagar Biosfer GSK-BB, dan merupakan fungsi pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Hal tersebut menunjang keberlangsungan perkembangan keanekaragaman hayati tetap lestari dan terjaga kehidupannya.

Pariwisata Alam dan Budaya

Cagar Biosfer GSK-BB mempunyai potensi yang tinggi bagi pengembangan pariwisata alam tropis. Potensi wisata Cagar Biosfer GSK-BB sangat bervariasi, unik, dan dekat dengan pasar wisata yaitu Malaysia dan Singapura. Kawasan ini diproyeksikan dapat dijadikan sebagai tujuan ekowisata unggulan dalam peta baru tradisi perjalanan di tahun-tahun mendatang.

Kawasan Cagar Biosfer GSK-BB dapat dibagi menjadi tiga wilayah pengembangan wisata yaitu wilayah area inti yang mewakili potensi alam (nature), wilayah pemukiman mewakili potensi budaya (culture), dan wilayah sungai-sungai dan tasik-tasik mewakili potensi petualangan (adventure) yang orientasi pengembangannya diarahkan pada karakter wilayahnya masing-masing. Orientasi utama pengembangan area inti diarahkan untuk wisata pendidikan dan penelitian (educational tour), baik dalam bidang keanekaragamanan hayati, ekologi hutan rawa gambut dan danau, serta sejarah geologis. Orientasi wilayah zona penyangga yang berbasis hutan tanaman industri diarahkan pada wisata pendidikan dan penelitian, sedangkan agro-ekosistem dan pemukinan kearah pengembangan masyarakat (eco-community based tourism). Keunikan wilayah perairan sungai dan tasik serta tracking hutan, orientasi pengembangannya diarahkan untuk wisata petualangan (adventure tourism), guna menyusuri jalur historis perdagangan Kerajaan Siak Sri Indrapura melintasi sungai Siak sungai Siak Kecil dan ekspedisi-ekspedisi penelitian perkebunan karet zaman dahulu.

“Pengembangan wisata di CB GSK-BB diarahkan ke jenis wisata alam dan ekowisata yang mandiri dengan menfokuskan wisata minat khusus, pembangunan fisiknya skala kecil yang memperhatikan arsitektur budaya asli masyarakat sekitar, dan pengelolaaanya dipercayakan kepada koperasi dan masyarakat setempat,” ujar sumber tersebut.

Pengembangan pariwisata alam dan budaya inilah yang menjadi ciri khas ketiga dari Cagar Biosfer GSK-BB, sebagai fungsi pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan ini diproyeksikan sebagai wahana peningkatan ekowisata yang berlandaskan keindahan, keunikan, dan kemurnian alam serta budayanya untuk menyejahterakan kehidupan manusia di sekitarnya.

Dengan pengembangan dalam sektor pariwisata, akan membawa cagar biosfer GSK BB sebagai objek yang memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Menjadi salah satu tujuan pariwisata yang memiliki unsur-unsur keanekaragaman budaya yang kental dari penduduknya.

Rawa Gambut

Lahan gambut dulu tidak diperhatikan, sekarang lahan gambut menjadi idola banyak kalangan, dari pemerintah, LSM hingga pengusaha. Catatan Greenpeace, suatu organisasi lingkungan global, total gambut di Indonesia ada 42 juta hektar alias 10 persen dari total gambut dunia. Di dalam 10 persen tersebut tentu termasuk lahan gambut yang ada di Giam Siak Kecil – Bukit Batu, Riau.

Biomassa di rawa gambut diketahui memiliki kandungan unsur karbon yang tinggi dan sejauh rawa gambut itu lestari, tentunya tidak ada kekhawatiran bahwa unsur karbon itu terlepas mempertinggi kandungan karbon di atmosfer yang menyumbang pada pemansan global. Apakah rawa gambut Giam Siak Kecil – Bukit Batu akan tetap lestari?

Secara keseluruhan ancaman itu telah dan masih ada. Citra satelit menunjukkan sejak tahun 1985 hingga tahun 2002, tutupan hutan di wilayah Giam Siak Kecil telah merosot dari sekitar 600.000 hektare menjadi kira-kira 350.000 hektare. Bagaimana dengan keadaan sekarang?

Ekosistem hutan rawa gambut di kawasan Suaka Margasatwa GSK sebagian besar telah mengalami gangguan baik penebangan liar, maupun perambahan lahan untuk pembukaan ladang dan pemukiman. Laporan LIPI (2007) menyebutkan bahwa wilayah Blok Tasik Betung, sebagian besar hutan rawa gambutnya sudah merupakan bekas tebangan liar. Sisa tegakan jenis primer hutan rawa gambut umumnya terdiri atas jenis-jenis tidak komersial dan berukuran relatif kecil. Hal ini kontras dengan ekosistem hutan rawa gambut kawasan konsesi PT Arara Abadi di Blok Bukit Batu yang tidak dikonversi masih relatif lebih baik. Penandanya adalah masih dijumpainya beberapa jenis utama yang berukuran cukup besar.

Perambahan terhadap hutan rawa gambut menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh badan pengelola cagar biosfer. Tindakan – tindakan di lapangan sering kali diikuti cara informal yang lebih berhasil daripada pendekatan formal. Badan pengelola yang mengikutsertakan setiap pemangku kepentingan diharapkan mempu menjembatani solusi.

Pelestarian ekosistem ini bukan hanya melindungi satwa genting, tetapi sekaligus menjadi penyimpan cadangan karbon yang cukup besar di wilayah Riau. Sedikitnya terdapat 7,3 giga ton karbon di kawasan inti cagar biosfer.