Jumat, 18 November 2011

Kayu Sebagai Bahan Bakar Tungku Tanah

Kebiasaan masyarakat yang menempati Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) memberikan gambaran kesederhanaan hidup dengan alam. Sebab, keharmonian mereka dengan alam dapat kita lihat dari cara mereka yang tidak merusak alam. Misalnya saja dalam hal memasak, mereka tidak menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak apalagi menggunakan kompor gas, tetapi mereka menggunakan tungku yang mereka buat dari tanah. Sehingga tidak akan merusak lingkungan tempat tinggal mereka.
            Karena bahan bakar utama yang digunakan berupa kayu, menurut salah satu sumber,”diasumsikan nilai konversi energi 1 ton kayu bakar  adalah 2,3 SBM, sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap kayu bakar sebagai bahan bakar utama dalam menggunakan tungku tanah tersebut meningkat 4% setiap tahunnya. Bahan bakar yang sering digunakan oleh masyarakat biasanya adalah kayu jenis akasia, sedangkan 1 batang akasia menghasilkan 81,45 kg  kayu bakar  kering. Kalau konsumsi kayu bakar dibatasi dengan alasan kerusakan lingkungan, berarti tekanan krisis minyak tanah bakal berlipat ganda dan tampaknya bukan pilihan yang bisa diterima saat ini mengingat besarnya porsi tambahan minyak tanah,briket batubara atau LPG yang harus disediakan sebagai konversi 71,5% penggunaan kayu bakar. Karena alam dan manusia saling bergantungan, untuk kelangsungan penggunaan tungku tersebut, pilihan yang lebih logis adalah penghematan konsumsi kayu bakar dengan cara menaikkan efisiensi penggunaan dan menata secara lebih teratur masalah penyediaan pasokan kayu bakar yang dapat berjalan beriringan dengan perbaikan lingkungan,”jelas sumber tersebut.
            Masyarakat GSK BB menggunakan tungku tanah yang terbuka dengan membuat lubang ditanah, pada tungku terbuka yang biasa digunakan hanya 5%-20% panas yang dihasilkan oleh pembakaran digunakan untuk memanaskan alat masak, sisanya terbuang ke lingkungan terbuka. Penggunaan tungku kayu bakar ini tidak hanya populer dikalangan masyarakat GSK BB, tetapi oleh orang luar salah seorang yang mengembangkan disain tungku kayu bakar adalah Rocket Stove (Dr. Larry Winiarski) yang menggunakan isolator panas di ruang bakar dan pengaturan suplai udara yang lebih baik, disain ini membuat temperatur pembakaran lebih tinggi dan lebih bersih. Temperatur pembakaran yang lebih tinggi juga menaikkan kecepatan perpindahan panas ke alat masak sehingga lebih banyak panas yang bisa dimanfaatkan.Efisiensi perpindahan panas juga sangat dipengaruhi oleh jumlah luasan alat masak yang terpapar panas, penggunaan selubung(skirt ) di sekeliling alat masak dapat memaksa aliran panas hasil pembakaran untuk menyentuh lebih banyak bagian alat masak, karena berada ditempat terbuka,panas dari tungku tersebut tidak merusak lingkungan dan aman digunakan.  (pia/gsj/news).


0 komentar: