Minggu, 20 November 2011

Giam, Menyimpan Nilai Ekonomi Dibalik Sejarahnya


            Jika mendengar Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) terlintas dalam benak pikiran kata giam hingga saat ini tidak banyak publik yang mengetahui hal tersebut. Seperti yang dketahui bahwa giam merupakan jenis pohon yang setara dengan meranti dan ramin, yang habitatnya di dataran rendah, hutan rawa, dan sempadan sungai.
            Vegetasi yang menutup hamparan bentangan hutan gambut yang sangat beragam beberapa diantaranya masuk dalam daftar yang dilindungi karena fungsi ekologis dan status konservasi, salah satu diantaranya adalah pohon giam ini. Sebelum cagar biosfer belum terbentuk, World Wide Fund (WWF) melakukan penelitian kawasan hutan bernilai tinggi di Bukit Batu, dengan adanya inisiatif dari Asia Pulp & Paper dan SinarMas(SMF) untuk menyatukan kedua suaka marsatwa yang ada dikawasan konservasi tersebut menjadi kawasan cagar biosfer. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pohon-pohon yang tumbuh dikawasan itu mempunyai nilai yang tinggi dari segi ekonominya, pohon giam ini merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang mempunyai potensi ekonomi yang baik.
“Dari sejarah kawasan bahwa terdapat dua kawasan hutan Suaka Margasatwa yaitu GSK-BB memiliki potensi keanekaragaman tinggi dan bentangan hutan rawa gambut dengan keindahan karakteristik danau – danau sebagai pengendali daerah aliran Sungai Siak Kecil dan rumah bagi kehidupan alam liar didalamnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan pohon giam telah menjadi sebuah penunjukkan nama kawasan suaka margasatawa,” tutur Yuyu Arlan, Manager Flagship Conservation SinarMas Forestry tersebut.
Hal tersebut menunjukkan adanya fungsi lain dari pohon giam itu, selain memiliki nilai tambah perekonomian masyarakat disana, pohon giam juga menjadi alih fungsi sebagai penopang cagar biosfer GSK-BB. Sebab, namanya yang mendominasi lahirnya sebutan Giam Siak Kecil-Bukit Batu. ”untuk mengetahui lebih jauh hal-hal yang berkaitan dengan pohon giam tersebut diperlukan kajian ilmiah dan explorasi secara mendalam untuk mengidentifikasi keberadaan dan populasinya,” tutup manager flagship SMF tersebut.(pia-gsj)



0 komentar: